Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Oktober 2014

Menyesal..

Aku fikir engkau bintang yang bersinar sangat terang
Namun terangnya tertutup awan
Namun kadang bersinar lebih terang terang

Kuizinkan sinarnya masuk ke celah jendela
Aku tutup jendelanya

Aku menyesal
Aku buka lagi jendelanya
Terlalu gelap

Dan tak kutemukan lagi cahaya bintang yang terang itu
Awan mana yang menutupinya
Aku mencari
Maukah kau tampak lagi, aku tak tau dimana kau bersembunyi
Dan jendelanya tak kan pernah kututup lagi

Madang, 22 Oktober,
Penyair yang tak bisa berungkap dengan kata kata jelas. Semoga huruf acak dapat mewakilkan makna..

Kamis, 16 Oktober 2014

Kebahagiaan


Pernahkah engkau iri kepada kebahagiaan orang lain dan merasa bahwa dirimu kesepian, sendiri. Aku tidak ahu bahwa aku mengalaminya sekarang. Perasaan sepi itu melanda dikala kita memang sedang tidak dikejar waktu

Lalu aku berfikir, apakah memang tidak bahagia ketika kita memutuskan sesuatu, memutuskan apa yang menjadi prinsip kita. Berat melakukannya karena kita lebih cenderung untuk hal yang lain.

Pada saat itu kemudian akan terfikir jadi untuk apa hidup ini. Aku meminta nasihat kepada orangtua dan sahabat dekat. Yah, bahwa rasa syukur yang mendalamlah yang menjadi tolak ukurnya. Engkau lebih sering melihat ke atas kepada kehidupan orang-orang yang lebih "kelihatan sempurna" tapi belum mleihat kepada kehidupan orang orang yang tidak seberuntung dirimu. Harusnya engkau bersyukur, banyak-banyak bersyukur.

Yah, aku menyetujui sambil berlinang air mata.

Madang, 6 September 2014

Senin, 28 Juli 2014

Dokter Yang Aku Impikan


Aku suka berada di sini. Yah, tapi kesukaanku berbeda dengan kesukaan kalian. Kalian mungkin suka dengan nilai A yang berderet. Mungkin juga ingin menjadi juara pertama dari 200 orang. Atau obsesi untuk referat dan ujian yang mengagumkan. Kalian tau, aku kadang ingin mengalah saja kalau seandainya ada rebutan untuk tindakan. Sampai kadang, aku bertanya, am I really become a good doctor?

Aku suka di sini  karena aku bertemu dengan banyak orang. Aku suka menikmati setiap ekspresi yang terpancar dari wajah-wajah orang yang berbeda dalam situasi yang tidak biasa. Situasi yang tidak bisa dibayangkan oleh orang awam. Situasi dimana hanya orang tertentu saja yang tahu. Yah, misalnya, ada orang yang nyawanya sudah satu-satu. Pada saat ini akan banyak ekspresi yang keluar. Dari keluarga pasien yang cemas sekali. Wajah kakak residen yang menyembunyikan keraguannya sampai wajah sehabat yang  ingin malam cepat berakhir.

Aku suka mempelajari orang-orang yang berbeda. Setiap bulannya, aku akan menemui hingga puluhan orang yang berbeda yang anda diharuskan cepat akrab dengan mereka kalau ingin hidup mudah dan selamat. Hal ini mudah untuk orang yang pandai bergaul atau orang cuek yang tidak ambil pusing dengan suatu hubungan. Namun sayang,  ini akan rumit bagi bagi orang yang menanggap sakralnya hubungan yang terjalin dan murninya sebuah hubungan tanpa motif di baliknya. Sayangnya tidak ada pilihan lain, suka atau tidak suka, anda memaksakan diri untuk akrab.

Walau begitu aku terus mengamati setiap kejadian yang berputar. Mengamati setiap orang dari setiap tindakan yang ia ambil dari suatu peristiwa. Akhirnya menyimpulkan karakter dasar orang tersebut. Pada akhirnya setiap orang adalah orang yang baik. Hanya setiap orang memiliki sudut pandang pemikiran yang berbeda atas suatu peristiwa. Sudut pandang inilah yang kadang akan memecah belah kita. Kita terlebih aku yang kadang terlalu berpasangka dan berspekulasi sehingga kadang menimbulkan ketidak-nyamanan ditambah aku memandang orang dengan tajam dan langsung pada matanya.

Kadang, aku dapat dengan mudah menebak perasaan orang lain, apa yang difikirkannya dan apa tindakan yang akan dia lakukan. Walau tidak 100% tepat aku akan terus  melatihnya.

Hingga akhirnya aku ingin bisa menghibur orang yang bersedih hanya dengan mengatakan "Aku mengerti" atau "Ceritakan saja padaku". "One day, I want to become your doctor, not only because I am using drug but also I am using my heart for curing your heart."

Pecinta dan Penyair


Kadang aku sangat bahagia, menikmati puisi para pecinta dan penyair. Merasakan rasa yang sama dan kebodohan yang sama. Kadang aku berfikir, mengapa cinta begitu rumit untuk kita sedang orang lain dengan mudah berbahagia dengan pasangannya.
Yah, kalau seandainya cinta itu mudah kita dapatkan, manakah ada puisi-puisi putus asa, syair-syair menyayat sembilu?
Yah, kadang aku sampai pada kesimpulan, mengapa sulit bagi kita untuk mengatakan bahkan hanya untuk sekadar menampakkanya.
Bila akhirnya cinta kita terbang mengudara bebas dari tinta dan kertas yang telah menahannya sebegitu lama. Aku akan sangat bahagia.
Siapa yang duluan dari kita penyair cinta untuk mendapatkannya, Cinta yang telah kita nantikan?
 
Sungaiiat, 28 Juli 2014

Sabtu, 19 Juli 2014

Believe in me

Aku ingin sekali engkau percaya padaku
Tak bisa kutawarkan cinta
Bila semuanya telah habis untuk pencipta kita
Dan bila cinta itu hanya timbul oleh masa yang panjang
Tak bisa juga kutawarkan harta
Karena memang ku tak punya
Jikapun keindahan yang engkau inginkan
Maka keindahan akan memudar oleh waktu
Apakah cukup jika ilmu, mimpi nun jauh ke depan
Dan kesungguhan
Memang mata tak kan pernah bisa melihat
Karena itu percayalah padaku
Setelah sebelumnya kita percaya pada yang di Atas sana

Senin, 31 Maret 2014

Pemuda pemudi negeri ini

Pemuda negeri ini hafal nama-nama pemain sepak bola
Pemudi negeri ini hafal seluruh artis korea
Namun pemuda pemudi negeri ini akankah tahu nama-nama sahabat Rasulullah, ulama, tabiin, ilmuwan Islam

Pemudi negeri ini setiap hari dengar lagu barat
Apakah pemuda pemudi negeri ini tilawah atau adakah setidaknya mendengarkan Alquran di Smarphone
Pemuda pemudi negeri ini cepat hafal lirik lagu barat
Namun, pemuda pemudi ini, juz Amma mungkin belumlah hafal
Pemuda pemudi negeri ini, baca sosmed setiap hari
Kapankah pemuda pemudi negeri ini menghayati makna Alquran, tempat rehat dam penyejuk jiwa sebenarnya
Tidak ada yang salah, memang
So what, ini zamannya,
Ini pilihan pemuda-pemudi negeri kami

Madang, Palembang, Maret 2014

Membagi Indera

Ada banyak waktu yang telah ia habiskan sendiri
Jam-jam makan pagi, makan siang dan makan malam
Dimana orang-orang memilih untuk menghabiskan waktu bersama-sama dengan orang lain entah suka atau terpaksa. Terpaksa karena mereka mungkin takut akan dicap sebagai orang kesepian hingga mereka menerima siapa saja yang menemani mereka.
Dan ia memilih sendirian di tengah keramaian jam makan pagi, makan siang dan makan malam

Dan ia suka waktu-waktu ini, waktu dimana fikirannya akan mengembara tanpa batas dan ide ide menyeruak keluar. Ia suka sensasi itu hingga ia suka waktu sendiri, waktu makan pagi, makan siang dan makan malam.
 
Sebenarnya, ada banyak tempat indah di negerinya dimana ia dapat menghabiskan waktu sendirian,.
Negeri kelahirannya telah menawarkan keindahan yang tak tergantikan walau nanti ia akan melalang buana ke berbagai negeri lainnya.
Langit biru, udara panas dan semilir angin khas tanah Melayu ini adalah suasana yang selalu dirindu dan dinantinya. Ia senang menanggapi riak ombak pantai yang merayu lembut di sela jari kaki atau saling berpandangan dengan matahari tenggelam dan rona oranye kehitaman yang ditawarkan saat itu. Menghirup bau angin pantai dan sensasi kain penutup kepalanya yang melayang-layang.
 
Namun, ia sisakan pengalaman itu dan belum pernah dicobanya sendirian. Bukan ia takut dicap sebagai orang yang sendirian. Ia hanya ingin membagikan tempat dan suasana indera indah ini. Yah, ia ingin membaginya dan tak ingin sendiri menikmatinya. Suatu saat nanti.
 
Palembang, Madang, Maret 2014

Melihat dengan Tersenyum


Aku berdiri di antara gang-gang sempit di saat orang-orang terlelap pada pekat malam

Seorang pria berdiri di tepi jendela sempit memandang dengan penuh cemas, memandang istrinya dan anak yang diidam-idamkannya

Kadang kala ia tersenyum, tersenyum bahagia sekali

Ada gemuruh dalam dada

Bagaimana mungkin aku tidak bersyukur dengan apa yang aku punya

Sedang mereka sangat-sangat menerima

 Bayi itu, bayi mereka

Dengan istilah panjang orang-orang baju putih menyebut sesuatu tentang anak mereka

Walau mereka tidaklah mengerti  maksudnya

Walaupun orang-orang memandang anak mereka dengan mengerenyitkan dahi atau memandang dengan kasihan

Mereka tetap saja tersenyum dengan bahagia

Mata mereka melihat bayi itu seakan-akan mereka melihat tanpa kekurangan apapun
 
Aku hanya menghela nafas panjang, aku sangat-sangat beruntung saat ini, itu setidaknya menurut penilaianku sekarang.

Banyak rahasiaMu di dunia ini yang tak terungkap ya Allah

Neonatus, 20 Desember 2013

Selasa, 25 Maret 2014

Dua Dunia

Dunia tak tahu rupanya ia dan rupa gagasannya
Ia juga tak ingin dikenal dunia
Ia ingin dikenal bukan sebagai dirinya
Tapi ia ingin dikenal dengan karya karyanya
Baginya, manusia cepat mati
Namun karya akan selalu abadi
Dia hidup bagai di dua dunia
Atau ada 2 orang yang hidup di dalam dirinya
Satu menempati alam nyata
Dan satu lagi bersembunyi di kesepian dan kesendirian
Dia tak dapat cukup tempat bukan karena diri satunya tak ingin berbagi
Namun, dunia luar akan cepat melukai dirinya
Sehingga diminta ia bersembunyi saja
Jangan nampak
Dan ia menuruti
Bersembunyi hingga nanti ada suatu masa
Yang akan mengakuinya
Bukan sekarang
Namun bisa saja berabad abad kemudian
Mereka tak akan menyatu
Masa sekarang adalah masa untuk dirinya yang nyata
Dan nanti adalah masa untuk dirinya yang lain menempati seluruh ruang-ruang fikir manusia
Maret 2014

Selasa, 01 Januari 2013

Keindahan


Keindahan termaknakan karena rangsangan yang diolah untuk diterjemahkan
Keindahan hadir lewat bayangan dan warna-warna
Dan keindahan muncul lewat lantunan irama

Apakah ini hakikat dari keindahan, bagi manusia
Yang hanya diberikan 2 hal untuk mencerna  yakni mata dan telinga
Lalu bagaimana untuk keindahan yang abadi

Yang tak bisa dibayangkan
Yang belum pernah ditampakan
Yang dikejar oleh manusia-manusia berstatus tinggi

Keindahan yang selalu terlihat sekarang
Yang hanya terbatas pada selapis kulit saja
Yang bila dilepas, semua sama saja, tinggal otot  dan tulang
Apakah itu keindahan hakiki

Mungkin, keindahan abadi itu yang tak selalu terlihat
Yang tidak ditampakkan
Tersembunyi didalam hati,
Yang akan dimiliki manusia-manusia berstatus tinggi

Tak Mampu Membendung


Aku hanya menghitung
Sudah sampaikah seribu,
Syair yang terserak
Yang kubuat di sela sela waktu
Dalam hari hari menunggu

Jika raut ini tak menunjukkan hasrat
Memang bagitu adanya
Dan seperti itu seharusnya
Tapi jemari ini
Tak akan sanggup membendungnya
Dan syair syair lepas ini
Kan mewakilinya
Tuk
Menterjemahkan setiap berat rasa
Dan menerbangkangnya
Bersama angin
Hingga ringan
Walau nanti kan kemabli menjadi berat


Menyerah>Give Up


Aku sudah bosan, sungguh bosan, dengan ribuan puisi yang tak pernah selesai.  Di setiap penghentiannya aku selalu tercekat di setiap detik yang sama, dimana aku tidak bisa menuliskan namamu atau sungguh karena bahkan jemari ini pun tak mau mengakuinya.
Aku tidak akan takut karena apa, karena setan hanya mampu membisiki tapi setan tidak dapat menerka isi hati. Tapi kadang aku bergindik ngeri, kalau kalau syaitan pandai memabaca syair. Karena itu kusembunyikan namamu di ujung ujung tinta yang tertahan. Biar saja hanya hati dan Tuhan yang tahu tentang diri yang memendam rindu.
Sudah delapan purnama atau lebih kutanggung berat rasa yang menyesakkan ini. Tapi kini kuberanikan diri untuk tidak lagi bersembunyi. Bukankah mencinta itu adalah pertautan dua ruh yang seirama dan senada. Dan bagaimana harmoninya akan bermain indah jika kepak sayap hanya satu. Yah, patahkan juga satunya, hingga hening sama sekali, hancur sudah.
Aku tidak akan mengharap bulu bulu baru untuk sayap-sayap yang patah itu. Aku masih punya kaki untuk menyusuri jalan panjang ini. Aku tidak akan berhenti dalam pencarian mencari ruh yang seirama yang dapat merasakan getaran di jiwa tanpa perlu mendengar dan tanpa perlu kata-kata.

Sabtu, 05 Mei 2012


Lautan biru ini bebas membentang
Tak berbatas sebatas mata memandang
Riak airnya menerbangkan keping-keping debu
Dan juga hatiku

Menatap kosong, keping debu itu menjauh
Dan berharap tak kan kembali lagi
Aku ingin sekedar duduk saja dan tidak berdiri seperti ini
Aku ingin menangis sekencang saja
Hingga pasir, riak air, angin dan biru laut
Beriba dan membiarkan hatiku
hatiku untuk  kembali

Jangan, jangan ambil itu
Karena perjalanan ini tak kan termakna, jikalau hati itu kalian ambil habis
Biar.. biar aku simpan lagi dan aku cuci bersih
Biar.. biar kemarin-kemarin saja aku kotori

Terbangkan saja debunya
Bawa lari saja, hingga aku tidak akan melihatnya
Cukup saja, karena debu-debu
Tak pandai mengerti, Tak pandai menakar
Karena yang benar bukan raut wajah dan ucapan
Yang dapat berdusta begitu mudah
Namun, kedalaman pemaknaan dan kebersihan hati yang  mampu menilai
Seberapa besar

Bawa pergi ia menjauh
Tapi, aku juga berharap kalau kalian bawa kembali padaku
Jika debu bisa menjadi mutiara
Aku akan tetap berdiri di depan riak gelombang tak bertepi
Bersama pasir, angin dan biru laut

Rabu, 25 April 2012

Mencintai yang paling indah itu adalah menjaga
Tapi memang tak banyak yang percaya
Bukan karena kekecutan hati
Untuk tak berani menunjukkan
Tapi ini adalah keberanian yang paling besar
Untuk membiarkan, untuk melepas
Untuk ikhlas
Jika tak menjadi yang siap pertama
Mencintai yang paling indah itu adalah bertahan
Tapi tak banyak yang percaya
Bukan karena tidak punya hati atau jatuh hati
Tapi ini adalah kekuatan yang sangat besar
Untuk terus bertahan,
Untuk terus tersenyum di saat yang lain membicarakan pasangan
Untuk juga tidak tersenyum di saat yang paling memungkinkan
Mencintai yang paling indah itu adalah mencintai Rabb kita
Yang berfirman “Untuk jangan mendekati zina”
Adik-adikku, kakak-kakakku dan saudara saudaraku
Yang ingin bertahan dan terus mengeraskan hati
Mari kita saling mengingatkan dan saling menjaga

“Puisi ini kubuat untuk diriku sendiri”

Kamis, 10 November 2011

Sendiri... menyenangkan..
Bebas,, tidak terikat apapun, bebas kemanapun
tidak sedih.. alhamdulilllah bahagianya..

Senin, 17 Oktober 2011

Met Milad AYIM



Kita bertemu sudah lama, sejak kita belum bisa mengalikan 4X6
Sejak kita belum tau apa arti dari kata tampan
Waktu berlalu, senggang-senggangnya ada terisi, terisi kamu
Walau 1 berbanding dengan 356
Dan tahun pun berlalu
Mungkin di Lahuz Mahfuz, ada tinta yang sama yang menoreh di daun yang bertuliskan namamu dan namaku
Hingga akhirnya, ikatan waktu dan ruang menyatukan
Dan dilekat dengan erat oleh hati yang semakin berpadu
Akrab, bukan berarti kita sama
Namun, perbedaan jualah yang menyebabkan rindu yang menyebrang pulau ke pulau
Mungkin hal yang sama, yang membuat kita saling nyaman adalah karena kita setia sendiri sampai sekarang,, dan entah sampai kpan
Kemarin engkau mengulang hari lahirmu yang kedua puluh
Aku berharap, semoga Allah selalu memberkahi dirimu  dan meridoi seluruhnya
Dan kau selalu bahagia
Tak ada bungkus kardus berpita yang dapat kukirimkan
Atau ucapan ketika jam 12 tepat berdentang
Biar lintasan hati lewat  embun yang akan sampai
dan ini puisi yang khusus kubuatkan

Met Milad Yim,, Luv U

Selasa, 16 Agustus 2011

Penyair dan Penguasa



Ada 2 orang sedang bercengkrama
Orang 1 : Kau tau apa yang sedang kau fikirkan
Orang 2 : Apa urusanku
Orang 1 : Aku berfikir tentang penyair dan penguasa
Orang 2 : Mereka sungguh berbeda, apa hubungannya
Orang 1 : Kau tau perbedaannya
Orang 2 : Sangat banyak, jangan bercanda..
Orang 1 : Mereka sering terlibat konflik pemikiran yang sama,, penyair sangat sering melirik-lirik penguasa, melirik segala salah yang ada, kemudian memilin milinnya menjadi kata-kata, ditambah bumbu-bumbu biar semakin pedas, ia berani menurut caranya sendiri,,
Orang 2 : Sedang penguasa
Orang 1 : Mereka orang yang selalu ketakutan, dan juga mencari-cari penyair, membumihanguskan segala syair yang ada biar tak berbekas, tapi sayangnya zaman sekarang yang sedemikian bebas, mereka harus menahan hati karena penyair itu berkeliaran bebas menyuarakan..
Orang 2 : Aku bingung pada dirimu
Orang 1: Hanya saja mereka mempunyai persamaan,, mereka kesepian, mereka sendiri, mereka hanya tersesat, terlalu banyak memikirkan orang lain, dirinya, apa yang tidak didapatkan, apa yang didapatkan
Orang 2 : Bisakah kita menunjukan jalan yang benar, kalau mereka tersesat
Orang 1 : Tidak usah, mereka sudah tau, mereka hanya lupa, aku harap hanya sesaat, tidak lama. Karena sanggupkah mereka menahan rindu yang sebegitunya kepada penciptaNya. Mereka hanya terlupa dan kuharap, sekali mereka ingat, nyawa mereka belum ditenggorakan atau bumi ini belah menjadi dua
Orang 2 : Kau mengerikan.

Selasa, 09 November 2010

IDEALISME KAMI


Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa
mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.
Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur
sebagai penebus bagi kehormatan mereka,
jika memang tebusan itu yang diperlukan.
Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan,
kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka
jika memang itu harga yang harus dibayar.
Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini
selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami,
menguasai perasaan kami,
memeras habis air mata kami, dan
mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.
Betapa berat rasa di hati kami menyaksikan bencana
yang mencabik-cabik bangsa ini,
sementara kita hanya menyerah pada
kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.
Kami ingin agar bangsa ini mengetahui bahwa
kami membawa misi yang bersih dan suci,
bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia,
dan bersih dari hawa nafsu.
Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia,
tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya,
tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih.
Yang kami harap adalah
terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat
serta kebaikan dari Allah – Pencipta Alam semesta

Gamais ITB,, wow I like this poem, so much
Mari qt bawa semangat ini di FK

Senin, 08 November 2010

MENUNGGUMU...

Sayang..
Di mana kau sekarang?
Lagi-lagi kurindukan Engkau
Kepada Bunda kukatakan bahwa aku ingin segera dipinang
Namun, gelak tawa darinya yang keluar
“dengan siapa anakku, dengan pohon ya atau dengan batu?”

Aku hanya terdiam..
Karena memang, tak dapat kugambarkan wajahmu
Kuceritakan dimana rumahmu
Bahkan matahari pun enggan bayangmu kulihat

Tapi, aku kan berjanji setia
Kuharap kau pun begitu
Setia menantimu sebelum bersama
Setia ketika nanti kau berada di sampingku
Setia jika kau kembali dan tiada
Satia hingga datang hari yang Yang Abadi itu tiba
Kita berkumpul bersama anak cucu kita
Ku kan sabar sekarang, Sayang
Tak berani kuimpikan wajahmu
Apalagi menerka nerka siapa dirimu
Ku kan setia, sendiri sekarang
Karena semoga Aku Jodohmu
Engkau takdirku
Karena Allah

Palembang, 8 November 2010

Rabu, 28 Juli 2010

Sang Pujaan

27 Juli jam 21:23

Aku melukis birunya langit siang ini dengan angan
Hendak berbisik pada angin dan memintanya
berteriak ke segala penjuru padang

Aku Menemukannya !! di sibakan ilalang
Aku Menemukannya !! di helai gelung benang
Sang Pujaan