Tampilkan postingan dengan label Mengepal Tangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengepal Tangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Juli 2014

Dokter Yang Aku Impikan


Aku suka berada di sini. Yah, tapi kesukaanku berbeda dengan kesukaan kalian. Kalian mungkin suka dengan nilai A yang berderet. Mungkin juga ingin menjadi juara pertama dari 200 orang. Atau obsesi untuk referat dan ujian yang mengagumkan. Kalian tau, aku kadang ingin mengalah saja kalau seandainya ada rebutan untuk tindakan. Sampai kadang, aku bertanya, am I really become a good doctor?

Aku suka di sini  karena aku bertemu dengan banyak orang. Aku suka menikmati setiap ekspresi yang terpancar dari wajah-wajah orang yang berbeda dalam situasi yang tidak biasa. Situasi yang tidak bisa dibayangkan oleh orang awam. Situasi dimana hanya orang tertentu saja yang tahu. Yah, misalnya, ada orang yang nyawanya sudah satu-satu. Pada saat ini akan banyak ekspresi yang keluar. Dari keluarga pasien yang cemas sekali. Wajah kakak residen yang menyembunyikan keraguannya sampai wajah sehabat yang  ingin malam cepat berakhir.

Aku suka mempelajari orang-orang yang berbeda. Setiap bulannya, aku akan menemui hingga puluhan orang yang berbeda yang anda diharuskan cepat akrab dengan mereka kalau ingin hidup mudah dan selamat. Hal ini mudah untuk orang yang pandai bergaul atau orang cuek yang tidak ambil pusing dengan suatu hubungan. Namun sayang,  ini akan rumit bagi bagi orang yang menanggap sakralnya hubungan yang terjalin dan murninya sebuah hubungan tanpa motif di baliknya. Sayangnya tidak ada pilihan lain, suka atau tidak suka, anda memaksakan diri untuk akrab.

Walau begitu aku terus mengamati setiap kejadian yang berputar. Mengamati setiap orang dari setiap tindakan yang ia ambil dari suatu peristiwa. Akhirnya menyimpulkan karakter dasar orang tersebut. Pada akhirnya setiap orang adalah orang yang baik. Hanya setiap orang memiliki sudut pandang pemikiran yang berbeda atas suatu peristiwa. Sudut pandang inilah yang kadang akan memecah belah kita. Kita terlebih aku yang kadang terlalu berpasangka dan berspekulasi sehingga kadang menimbulkan ketidak-nyamanan ditambah aku memandang orang dengan tajam dan langsung pada matanya.

Kadang, aku dapat dengan mudah menebak perasaan orang lain, apa yang difikirkannya dan apa tindakan yang akan dia lakukan. Walau tidak 100% tepat aku akan terus  melatihnya.

Hingga akhirnya aku ingin bisa menghibur orang yang bersedih hanya dengan mengatakan "Aku mengerti" atau "Ceritakan saja padaku". "One day, I want to become your doctor, not only because I am using drug but also I am using my heart for curing your heart."

Senin, 31 Maret 2014

Hikmah Perjalanan

Seorang teman mengajak mengikuti sebuah perjalanan ke luar kota. Perjalanan untuk tujuan pelayanan dan kemanusiaan. Perjalanan ini adalah yang pertama dari beberapa bulan belakangan ini. Senangnya melakukan perjalanan adalah akan banyaknya hikmah yang dapat dipetik.
Hal yang pertama yang diingat adalah membawa headset. Headset ini akan berguna kalau kalau perjalanan ini menjemukan. Ternyata praduga ini salah. Sepanjang perjalanan kami ditemani seorang seseorang yang "subhanallah". Seseorang yang mempunyai kehidupan yag berbeda dengan kami. Seseorang ini bercerita dan membagikan pengalamannya yang banyak. Pengalaman yang mungkin tidak akan pernah kami rasakan karena jalur kehidupan yang sudah berbeda. Tapi mendengarnya saja sudah cukup untuk kami.
Dari banyak hal yang ia ceritakan, saya jadi malu dan bertanya tentang kontribusi yang sudah aku lakukan untuk jalan ini. Sedikit-sedikit aku banyak kecewa dan mengeluh ditambah malas. Lengkap sudah. Sedangkan mereka telah mengorbankan segalanya. Mereka mengorbankan waktu, fikiran, tenaga dan juga uang. Bahkan seseorang ini bilang ia berani mati lalu bertanya apakah kami berani mati. Sekilas seseorang ini bertanya dengan nada bercanda. Walau bercanda pertanyaan itu menggores benak saya. Sudahkah saya benar-benar dan sungguh-sungguh.
Terimakasih untuk perjalanan ini. Menambah hamasah dalam dada.

Sabtu, 12 Januari 2013

Etika dan Norma


Etika dan norma ini dipelajari ketika MKU di Inderalaya kemarin. Tepatnya pada mata pelajaran ISBD yakni Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Pada saat itu, saya masih ingat teman-teman maju ke depan kelas dan mempresentasikan definisi dari etika dan norma tersebut. Saya pun bertanya, apa perbedaan antara etika, akhlak dan norma. Teman-teman menjelaskan dan saya tidak mengerti. Yah, sangat sulit untuk mengerti definisinya apabila dijelaskan dengan bahasa filsafat seperti itu. Tapi izinkan saya untuk menjelaskan dengan pemikiran saya sendiri.

Jadi, etika secara singkat adalah ilmu yang mengatur bagaimana cara berprilaku dan etika ini konteksnya lebih resmi daripada norma. Etika sering dipakai dalam bidang keilmuan dan sesuatu yang terkesan lebih intelek contohnya di kedokteran sendiri ada kode etik dokter yang mengatur bagaimana seharusnya seorang dokter berprilaku.

Saya berfikir tentang etika lain yakni etika menjadi seorang akhwat. 'Akhwat' yang saya maksud disini sudah mengalami penyempitan makna. Yah etika yang lebih saya tekankan bagaimana seorang wanita menjaga sopan santun dalam interaksi sosial sebagai seorang 'akhwat'.

Dahulu, saya sering kagum dengan mba-mba berjilbab panjang dan tebal dengan segala keanggunan dan  lemah-lembut. Kekaguman yang akhirnya berimbas menjadi proses imitasi, identifikasi atau apalah. Namun, berkeinginan tidak semudah melaksanakannya. Banyak faktor pendukung yang harus ada selain motivasi di dalam hati yakni faktor lingkungan.

Mudah sekali untuk menjadi seorang akhwat di dalam lingkungan yang kondusif  dimana seluruh teman-teman adalah akhwat-akhwat yang 'menjaga'. Linkungan kondusif dimana semua orang seragam dengan pola fikir yang sama untuk menjaga etika ini terlepas bagaimana ibadah individual. Etika ini penting untuk dijaga karena yang pertama kali dilihat dari sesorang adalah etika dan bagaimana bertindak tanduk dalam lingkungan sosial sehari-hari. Bilapun seandainya hati kita tidak baik, menjaga etika  bukanlah hal yang munafik karena kita sedang berusaha untuk menampilkan yang terbaik.

Faktor lingkungan juga akan menambah semangat bukan kekecewaan dan bukan kemunduran. Sehingga apa yang salah jika saudara-saudara kita dan diri kita sendiri mengalami kemunduran dalam hal etika ini. Kemunduran dalam berprilaku, menjaga hati, menjaga interaksi dan menjaga hal-hal yang sering kita katakan 'saklek'. Yah, apa yang salah apakah lingkungan yang multikultural, lingkungan yang hedon, televisi, film, internet atau kita sendiri.

Mungkin, kita sendirilah yang tidak saling menjaga saudara-saudara kita termasuk saya sendiri. Kita yang kurang menasehati dalam hikmah, kita yang terlalu segan untuk mengeluarkan kata tidak suka, kita yang terlalu berat untuk menyatakan itu tidak baik. Kita yang kekurangan menasehati dalam hal yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Karena apa? Karena setiap kita takut untuk menyakiti dan disakiti. Kita akan menjauh dan berprasangka tentang saudara kita bila dikritik. Setiap kita dan terlebih-lebih saya. Hal lainnya adalah kita sering merasa tidak sempurna sehingga tidak pantas untuk menasehati. Padahal seharusnya, ada satu ruang lagi di dalam hati kita untuk saudara kita yakni ruang salah dan ruang maaf. Yang saya sendiri pun belum banyak menyediakan ruang tersebut.

Entah sebenarnya, Apa kita masih menjujung nilai-nilai etika dan ke'saklekan' itu? Atau kita ingin menggerusnya supaya lebih mudah beradaptasi. Kita sedang diuji pada lingkungan sebenarnya yang jauh dari keseragaman. Kita diuji tanpa dengan sedikit panutan dan pemimpin sedang sebenarnya panutan dan pemimpin itu ada pada diri kita masing-masing. Ingin memberikan contoh yang terbaik untuk ditiru atau contoh buruk yang juga lebih besar pengaruhnya untuk ditiru. Kita hidup dalam interaksi sosial yang saling meng-imitasi. Bagaimana rupa teman kita seperti itulah kita.

Bagaimana solusinya? Atau kita biarkan saja hal ini karena tidak ada yang salah walau hati kecil kita tahu mana yang salah atau tidak. Atau kita ingin mulai dari awal. Dimana kita ingin mencontoh persaudaraan-persaudaraan pendahulu kita. Wallaualam

Terimakasih karena telah memberikan banyak contoh baik yang ingin saya tiru dari kalian semua. Tapi saya ingin sekali memperbaiki kekurangan-kekurangan fatal kita bukan berarti saya tidak dapat menerima kekurangan karena setiap dari kita pasti diharuskan untuk mengejar kesempurnaan.

Wallahualam bissawab. Sesuatu yang keras adalah untuk menasehati diri saya sendiri.

"Dan dia Allah yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Maha Bijaksana." Q.S (Al Anfal :63)


Minggu, 30 Desember 2012

Dunia Ini Ternyata Benar Berputar


Haha. Yah, waktu sudah beranjak begitu cepatnya. Sekarang, sudah di penhujung tahun 2012. Sebentar lagi akan berganti menjadi tahun 2013. Saya sendiri sudah 3, 5 tahun menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa kedokteran. Tidak terasa tapi kalau diingat-ingat, memang sudah banyak kejadian dan peristiwa yang terjadi dan terlewati. Semua peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi dalam satu malam saja. Kita saja yang merasa terlalu cepat.

Waktu berlalu dapat dibuktikan dengan orang-orang dan peristiwa yang ada di sekitar. Orang-orang berubah dan beranjak menuju kehidupan yang lebih baik. Tadinya, teman-teman dan mba mba yang sendiri, lambat laun sudah memiliki pasangan masing-masing. Bahkan, beberapa sudah ada yang memiliki anak. Teman-teman yang lain banyak yang sudah diwisuda, mendapatkan pekerjaan, melanjutkan sekolah lagi dan lain sebagainya. Benarlah, kehidupan ini benar-benar berjalan sesuai dengan arus yang telah ditetapkan sebelumnya.

Lalu, bagaimana dengan saya sendiri? Akankah saya terus berjalan di tempat dan selalu menangisi apa yang terjadi pada saya. Saya berharap itu cerita yang lalu. Banyak sekali keajaiban dan berkah yang diberikan oleh yang Kuasa kepada saya yang harus disyukuri, dimanfaatkan dan dibagi-bagi. Sehingga saya pun dengan indah dapat mengikuti arus yang sama dengan segala kemudaham, kebarokahan dan kebermanfaatan.

Kali ini saya berjanji dan bersemangat degan seluruh kemampuan yang ada untuk kehidupan yang lebih baik. Janji yang bukan hanya dibibir lalu terhembus angin begitu saja. Ini adalah janji yang menghujam ke sanubari. Saya akan menepatinya walau berbulan-bulan atau  bertahun-tahun. Semakin cepat menepatinya, semakin cepat kehidupan merangkak ke arah lebih baik.

Insya Allah, semoga tidak ada halangan, semoga Allah mengizikan untuk menyemat gelar S.Ked dan akan menjalani beratnya dunia per-Koassan. Dunia yang katanya tidak mengenal waktu dan letih (wow). Well, saya berharap kebarokahan untuk kehidupan saya dan saya pun berharap hal yang sama untuk setiap anggota keluarga kecil saya di sana serta saya berharap yang sama untuk kalian semua.



Minggu, 25 November 2012

Menulis

Kenapa menulis sekarang begitu susah untukku. Padahal menulis itu mudah. Anda tinggal tekan tuts saja dan tuangkan apa yang anda fikiran. Semuanya mudah kan. Namun, menulis itu memakai hati bagiku. Ketika hati sedang runyam dan kemudian ingin menulis tentang kebahagiaan bukankah itu termasuk berbohong.

Ketika ibadah sedang tidak benar kemudian ingin berceramah. Apakah itu termasuk berbohong?

Tapi tangan ini rasanya gatal ketika tidak menulis. Apa yang ada di benak sudah menari-menari dan bila tidak diikat dengan baik maka fikiran-fikiran itu akan menguap dan menghilang. Menulis itu menajamkan ingatan dan juga menuatkan perasaan. Saya ingin kembali menulis. Menulis apa saja yang ingin saya tulis. walaupun tulisan saya sebagus para sastrawan atau yang laiinya setidaknya saya sudah percaya diri untuk kembali menulis.

GAZA

Ketika membuka facebook, ramai sekali orang membicarakan tentang topik ini. Saya kemudian tidak bergeming. Apakah saya tidak punya hati. Tidak juga. Mungkin saya kurang membaca dan kurang menonton televisi tentang apa yang terjadi di GAZA, di Palestin

Semalam, saya baru bisa menonton televisi dan rasa itu ada. Rasa yang benar. Rasa amarah. Seperti setumpuk batu yang memukul-memukul jantung, membuat sesak tapi tertahan dan tidak bisa terkeluarkan.

Lalu. Apa yang bisa aku lakukan. Paling saya hanya bisa menyumbang recehan uang. Sebegitu saja. Kecil, yah saya kecil. Saya tidak punya kekuatan apapun untuk merubah. Itu hanya angan-angan tinggi bagi saya yang mengurus urusan urusan kecil pun belumlah pandai.

Wahai. Orang-orang yang punya kekuatan besar. Dimana keberanian, kecerdasan dan strategi kalian. Untuk mengatakan yang salah memang salah dan yang tertindas memang tertindas. Sebegitu hebatkan Israel sehingga dapat membungkam PBB dan Amerika Serikat. Yah, saya hanya bisa menggerutu di sini dalam ketidakberdayaan. Semua orang di dunia bahkan anak kecil tau mana yang salah tapi semua orang tidak dapat berbuat apa-apa. Semua orang tidak dapat melindungi anak-anak dari gempuran tank-tank. Semua orang hanya terdiam dalam amarah, semua orang hanya bisa menjerit-jerit di lapangan yang entah didengar atau tidak.

Hhh.. Afganistan, Iran dan negara yang saya juga tidak tau diperangi sampai hancur karena DIDUGA teroris sedang Israel yang jelas-jelas TERORIS bahkan untuk mengatakan mereka bersalah pun orang-orang besar itu tidak mampu. Serumitkah urusannya. Apa yang mereka lindungi, apa yang mereka takutkan dan sudah sebengis apa kaum Zionis itu berfikir. Mungkin mereka bukan manusia. Mereka setan dalam bentuk manusia.

Aku tidak bisa datang ke sana. Aku pun merasa percuma untuk unjuk rasa di jalanan. Mungkin lewat doa dan berfikir untuk makna dan hikmah di balik ini semua. 

Sabtu, 24 November 2012

My target

Katanya, jangan membandingkan diri kita dengan orang lain. Yah, karena tidak akan ada habisnya. Jadi, bandingkanlah diri kita dengan diri kita yang lebih baik lagi. For doing this thing, we must have target that we must reach.

2 buku yang akan saya habiskan segera bulan desember ini.

Minggu, 30 September 2012

Menajamkan Semangat

       Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya hari ini adalah hari yang tepat untuk kembali memulai apa yang sering saya sebut “menajamkan semangat”. Membaca tulisan lama kemudian membandingkan dengan sekarang saya pun sadar bahwa tidak ada peningkatan dari tulisan-tulisan saya yang nyatanya terbukti dari diksi-diksi yang belum bertambah dan dari kelembutan dalam bercerita. Banyak teori menulis yang katanya jangan menulis terlalu panjang karena pembaca akan bosan atau  menulislah tema yang khusus saja dan juga menulislah dengan kerendahan hati. Namun, saya ingin menyingkirkan teori –teori yang ada dan ingin bercerita apapun yang  ingin saya ceritakan terlepas ada yang membaca atau tidak.
          Sebagai wanita yang sudah melewati usia 20 tahun tentulah kegundahan akan hadir tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Jujur masalah jodoh adalah hal yang paling membuat hati ini tidak nyaman. Setelah berfikir, saya mengerti bahwa masalah terletak bukanlah pada jodoh itu sendiri tapi kepada mimpi-mimpi yang ada. Salahkah, jika saya kadang ingin menyalahkan pemikiran feminis yang ada di benak ini namun rasanya, “there is nothing wrong about the little mind about feminisme”.
        Saya lahir di abad ini dimana akhinya wanita hampir setara dengan pria, itu setidaknya yang terfikirkan secara selintas. Sesuatu yang sebenarnya saya syukuri mendalam kepada Allah dimana saya dapat duduk untuk meraih ilmu setinggi yang saya inginkan. Hal ini tidak akan saya dapatkan apabila saya lahir 100 tahun yang lalu. Pendidikan, suasana, informasi, buku-buku dan semuanya membuat diri ini ingin melambungkan cita-cita setinggi yang ada dan akhirnya saya tahu apa yang  paling saya impikan namun saya sadar bahwa Allah telah menitipkan sesuatu yang sangat hebat di dalam diri ini yakni sebuah rahim. Sesuatu yang sangat luar biasa dimana tanggung jawab, pahala dan dosa juga setimpal hingga saya tidak ingin mempermainkan apapun yang berkaitan dengan hal ini bahkan untuk memulai jatuh cinta. Rahim ini juga akan menuntut tanggung jawab setelahnya yakni tanggung jawab yang besar untuk menjaga sesatu yang paling sempurna di seluruh jagad yang diciptakan Allah yakni manusia. 
        Saya pun membayangkan mengenai kesanggupan untuk bermimpi besar yang akan berimbas pada tanggung jawab yang besar. Saya belum pernah membaca buku fiqih kotemporer mengenai hal ini. Saya sering mengobrak-abrik buku-buku biografi bagaimana wanita-wanita hebat zaman sekarang mendidik anak-anak mereka dan merawat keluarga mereka. I never found it . “It” yang ingin saya maksudkan adalah masalah dan kegundahan mereka. Sejauh yang ada hanyalah cerita-cerita tentang kesuksesan wanita karir dalam menyeimbangkan keluarga dan pekerjaan. Namun, saya ingin tahu tentang cerita dibaliknya tentang harga mahal yang harus dibayar mereka.
          Saya adalah seorang ‘Secret admirer’ dari wanita-wanita mengagumkan sepanjang masa. Kalau di Indonesia sendiri saya mengagumi mantan Menteri Ekonomi Indonesia, Sri Mulyani juga  mantan Menteri Kesehatan Indonesia yakni dr. Endang Rahayu dan juga Menteri Kesehatan sekarang dr.Nafsiah Mboi. Wanita lain yang menyita perhatian saya adalah seorang dokter  yang mendapatkan penghargaan Bakrie 2012 untuk bidang penelitian kesehatan. Dokter ini bernama Sultana MH Faradz. Beliau sungguh memukau dengan masa panjang penelitiannya di bidang biologimolekuler untuk penyakit kerancuan kelamin.  Peneliti wanita muda lainnya yang saya sukai adalah DR. Sidrotun Naim. Beliau adalah doktor udang pertama di Indonesia yang meraih finalis penghargaan Internasional Unesco for Woman in Science 2012 dan sejajar dengan peneliti-peneliti wanita dunia lainnya. Satu kesamaan yang sukai dari mereka adalah kecerdasan,prestasi akademik, pendidikan dan dedikasi mereka untuk bangsa Indonesia.
       Tapi bukan hanya mereka yang saya kagumi. Saya pun terharu saat membaca kisah hidup Ustazah Yoyoh Yusro yang wafat pertengahan tahun 2011. Beliau adalah harta yang tidak ternilai harganya, seorang aktivis dakwah yang dapat menyeimbangkan antara pengabdian pada bangsa dan juga dengan keluarganya. Beliau merupakan anggota DPR RI yang sungguh super sibuk namun juga punya 13 anak-anak yang berprestasi dan dalam beberapa literatur menyebutkan beliau selalu tilawah minimal 1 juz Alquran perhari dan tidak pernah ketinggalan sholat malam. Satu kata yang pasti kalian setuju untuk beliau.Subhanallah dan Amazing
        Surah Maryam termasuk surah favorit saya dimana Allah SWT berfirman tentang salah satu hambanya yang shaleh yakni Maryam. Ibunda dari nabi Isa AS, wanita suci yang tidak pernah disentuh laki-laki. Mungkin iri kepada mereka tidaklah disebut pantas karena iri harus adalah semangat untuk menyamainya namun apakah diri ini sanggup untuk menyamai wanita luar biasa ini.  Senada dengan Maryam yakni Asiyah yang bersuamikan Firaun yang Allah abadikan doa yang dipanjatkannya  di dalam Alquran dan juga wanita-wanita di sekeliling Rasullullah SAW yakni Siti Khadijah ra, Aisyah ra dan Fatimah ra. Apakah diri ini punya kekuatan dan kepantasan untuk dapat bertemu dengan mereka? Apakah bisa? Apakah pantas?
      Mereka semua adalah ekstraordinary woman yang sangat menginsipirasi. Di saat hati ini diselimuti ketakutan untuk bermimpi namun jika berkaca kepada mereka, apa yang tidak mungkin. Setiap orang khusus dan unik. Dan saya pun dilahirkan dan diciptakan di muka bumi ini dengan tujuan yang khusus dan cara untuk melayani sesama dengan cara yang khusus pula nantinya. Saya ingin memulai mimpi saya dari sekarang dan tidak ada kata terlambat untuk bermimpi. Mimpi ini bukanlah sesutau yang bisa dicapai sebentar tapi bertahun tahun. Mimpi yang tidak bisa aku deskripsikan dalam sebuah kata, kalimat atau paragraf. Namun ia adalah imajinasi yang perasaannya sudah kurasakan dan gambarannya sudah kulihat. Mimpi adalah sebuah rangkaian besar dari banyak mimpi-mimpi bahkan mimpi orang lain
          Akan ada masa panjang pengorbanan dan pertentangan batin namun bila dengan tujuan dan niat yang benar insya Allah ada jalan. Yang pertama adalah sebesar besarnya untuk keluarga. Tapi jika mempunyai bakat untuk membantu khalayak lebih besar, mencipta lebih besar kenapa tidak digunakan. Mungkin ini juga satu bentuk dari tujuan penciptaan dan wasilah untuk mendekat kepada Nya.
           We will see in the future and  the this day when i write this note

Rabu, 11 Januari 2012

Tahun ini harus menjadi Resolusi, Resulosi untuk menjadi diri yang sebenarnya. Bukan ingin berlari atau sebatas mekanisme pertahanan. Sukses dan keberhasilan akan terjabarkan menjadi berbagai hal yang berbeda dengan pribadi yang berbeda. Waktu berbulan-bulan mungkin terlalu lama, tapi untuk sebuah rekontruksi pemikiran, tujuan, keinginan, masa depan dan masa yang lebih jauh ke depan, bukanlah waktu yang lama

Ternyata jawaban atas dari semua pertanyaan adalah mengenali diri sendiri, mengenali potensi, alat penunjang, kesempatan, keinginan, kenyamanan, kebahagiaan dan kebaikan yang diperintahkan. Tujuan kita ridha Allah dan hari akhir yang indah jadi kenapa harus dibuat rumit, lakukan apa yang bisa dilakukan.