Selasa, 01 Januari 2013

Menyerah>Give Up


Aku sudah bosan, sungguh bosan, dengan ribuan puisi yang tak pernah selesai.  Di setiap penghentiannya aku selalu tercekat di setiap detik yang sama, dimana aku tidak bisa menuliskan namamu atau sungguh karena bahkan jemari ini pun tak mau mengakuinya.
Aku tidak akan takut karena apa, karena setan hanya mampu membisiki tapi setan tidak dapat menerka isi hati. Tapi kadang aku bergindik ngeri, kalau kalau syaitan pandai memabaca syair. Karena itu kusembunyikan namamu di ujung ujung tinta yang tertahan. Biar saja hanya hati dan Tuhan yang tahu tentang diri yang memendam rindu.
Sudah delapan purnama atau lebih kutanggung berat rasa yang menyesakkan ini. Tapi kini kuberanikan diri untuk tidak lagi bersembunyi. Bukankah mencinta itu adalah pertautan dua ruh yang seirama dan senada. Dan bagaimana harmoninya akan bermain indah jika kepak sayap hanya satu. Yah, patahkan juga satunya, hingga hening sama sekali, hancur sudah.
Aku tidak akan mengharap bulu bulu baru untuk sayap-sayap yang patah itu. Aku masih punya kaki untuk menyusuri jalan panjang ini. Aku tidak akan berhenti dalam pencarian mencari ruh yang seirama yang dapat merasakan getaran di jiwa tanpa perlu mendengar dan tanpa perlu kata-kata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar