Aku sudah bosan, sungguh bosan, dengan ribuan puisi yang tak
pernah selesai. Di setiap penghentiannya
aku selalu tercekat di setiap detik yang sama, dimana aku tidak bisa menuliskan
namamu atau sungguh karena bahkan jemari ini pun tak mau mengakuinya.
Aku tidak akan takut karena apa, karena setan hanya mampu
membisiki tapi setan tidak dapat menerka isi hati. Tapi kadang aku bergindik
ngeri, kalau kalau syaitan pandai memabaca syair. Karena itu kusembunyikan
namamu di ujung ujung tinta yang tertahan. Biar saja hanya hati dan Tuhan yang
tahu tentang diri yang memendam rindu.
Sudah delapan purnama atau lebih kutanggung berat rasa yang
menyesakkan ini. Tapi kini kuberanikan diri untuk tidak lagi bersembunyi.
Bukankah mencinta itu adalah pertautan dua ruh yang seirama dan senada. Dan
bagaimana harmoninya akan bermain indah jika kepak sayap hanya satu. Yah,
patahkan juga satunya, hingga hening sama sekali, hancur sudah.
Aku tidak akan mengharap bulu bulu baru untuk sayap-sayap
yang patah itu. Aku masih punya kaki untuk menyusuri jalan panjang ini. Aku
tidak akan berhenti dalam pencarian mencari ruh yang seirama yang dapat
merasakan getaran di jiwa tanpa perlu mendengar dan tanpa perlu kata-kata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar