Minggu, 26 Juli 2026

Dua Gadis Cantik

 



Dua gadis cantik dengan biru langit, kayu coklat dan hijau hutan
Tumbuhlah besar dengan segala kebahagiaannya 
Jadilah bebas, pada jiwa dan pengalamannya
Jadilah terikat, pada kebaikan dalam firman-firmanNya

Bangka, Juli 2026

Rabu, 15 Juli 2026

Surga Pertamaku

Kau mukjizat untukku,

keberuntungan yang tak kuminta

namun kudapatkan

 

Otak ini tak pernah diam—

membaca nada, memilih kata,

mengurai gerak yang tak terlihat.

mengenali niat tersembunyi,

dan karena itu…

tak pernah benar-benar merasa aman.

 

Takut

 

Namun setiap kali bertemu denganmu,

lagi dan lagi,

aku tenang.

 

Seakan tak perlu berjaga.

Seakan boleh tertidur.

Seakan aku telah menemukan surga.

 

Dia mengenali keikhlasan itu.

Cinta dan pengorbanan

 

Seharusnya dia tak pernah melangkah keluar,

dunia terlalu keras

untuk jiwa lurus,

naif.

 

Separuh jiwaku—

 

Jika kita tak pernah berubah,

jika hatimu tak goyah,

tak beralih dari perjanjian berat

yang disaksikan langit,

karena iman

karena amanah

 

Maka kita kan bertemu lagi.

 

Pada surga kedua.

 

Surga pertama

telah ku rasakan di dunia ini—

karena mu.

 

Dan setelah pertarungan panjang ini,

yang mungkin tak kan segera usai,

ku akan kembali padamu.

 

Pada perlindungan sayapmu,

yang membuat jiwaku tenang

tanpa perlu waspada lagi.

Jakarta, Juli 2026


Minggu, 28 Juni 2026

Bahasa cinta

 

Bahasa cinta seorang penguasa adalah kekayaan, keindahan, dan kemegahan.

Seperti Taj Mahal yang dipersembahkan Shah Jahan kepada Mumtaz Mahal.

Seorang laki-laki mengungkapkan cintanya dengan menafkahi istri dan anak-anaknya.

Seorang perempuan menghadiahkan doa dan kesetiaannya kepada keluarga.

Sedangkan seorang penyair mempersembahkan kata-kata.

Bukan kata-kata biasa,

melainkan kata-kata yang telah ia bumbui fikiran

dan ia pinjamkan ruh dari hatinya.

Maka

Hadirlah syair

sebagai hadiah

bagi kekasih hatinya.

Jakarta, Juni 2026

Kepedulian yang diterjemahkan

 
Apakah ada kesalahan yang tidak termaafkan
Bahkan Allah pun maha Pemaaf
Apakah untuk mengubah seseorang harus memaksanya untuk merasa bersalah
Apakah tak cukup penyesalan dan azam untuk memperbaikinya
Adakah perbedaan antara menasehati dan menghakimi
Aku bukan Prabowo atau Jokowi yang korupsi triliyunan
Mengambil pajak rakyat lalu korupsi untu perutnya sendiri
Aku hanya bertanggung jawab untuk 10-an pasien yang tidak ada yang meninggal
Aku hanya tidak ini dan tidak itu, mengapa terlalu keras
Mengapa antara kita harus ada jembatan antara yang berkuasa dan yang tertindas
Mengapa aku melihat kalian melihatku sebagai hama
Tapi percuma
Dari awal cara kita memandang sesuatu berbeda
Dan dari awal cara kalian memandang ku berbeda
Aku hanya ingin cepat selesai dan cepat pergi dari sini
Sebegitu sederhana, jangan dipersulit
Kalian tidak bisa melihat niat di dalam hati
Mungkin niatku lebih tulus pada pasien pasien itu, mungkin, kita tidak tahu
Mungkin memang benar kali lebih peduli pada pasien pasien itu dan aku tidak, mungkin kita tidak tahu
Jangan berdebat kepada ku tentang kata kata
Karena aku menerjemahkannya menjadi manipulasi dan dominasi
Aku ingin melindungi hatiku agar tidak terluka
Ia mirip kaca yang disentuh sedikit maka akan retak
Ia mirip salju yang panas sedikit mudah mencair
Aku belum bisa mengolah kata kata itu menjadi ungkapan kasih peduli
Ia hidup selama ini dengan dongeng dongeng happy ending
Dengan idealisme syair-syair
Ia naif tetap naif

Maafkan ia
Ingin

Melindungi

Hatinya agar tidak gila lagi

Jakarta, Juni 2026 

Senin, 30 Maret 2026

Dalam sebagian Doa

Aku memujimu terang-terangan
Di hadapanmu
Engkau tidak percaya
Katamu tak baik memuji orang berlebihan 

Tapi engkau lebih baik dari sangkaan orang terhadapmu 
Orang bilang engkau baik 
Dan engkau lebih baik dari itu semua
Kepada ku dan kepada kedua penyejuk jiwa kita 

Semoga segala keberlimpahan di turunkan untukmu
Semoga Allah membalas segala kebaikanmu dengan kebaikan kebaikan yang berlebih 
Semoga Allah ridho padamu seperti yang engkau idam-idamkan 

Jakarta, 25 Januari 2026

Wahai Diri

Jika semua orang mulai memusuhi 
Bila semua orang memulai kata-kata menyakitkan

Kita tidak ingin percaya 

Orang terakhir yang akhirnya mengasihi diri kita adalah diri sendiri 

Aku memaafkan diriku

Aku menyayangi diriku sendiri 

Jangan jadi gila untuk hal seperti ini 

Wahai diri, anda telah berjuang keras sampai detik ini 

Melewati banyak hal yang tidak dapat dibayangkan
Terima kasih karena tidak pernah berhenti 
Terima kasih untuk tetap bangkit walau berkali-kali jatuh 

Terima kasih hati, yang tetap sabar 

Terima kasih tubuh, yang tetap berjuang bersama, wahai diri 

Bismillah, bismillah 


Jakarta, 28 November 2024

Dalam ingatan untuk berhenti dalam jalan ini, dalam fase serendah rendahnya 






Ketidaksempurnaan

Adanya kekurangan, kesedihan, ketidakcukupan, akan membuat kita semakin merindukan surga dengan kebahagiaan, ketenangan, kecukupan, kepuasaan yang abadi.

Apa yang dikejar terlalu keterlaluan bila juga akan mati, apa yang mesti dikumpulkan mati-matian bila pun tak dibawa mati
Apa guna lelah ini, bila tidak menjadi lillah
Semua kuniatkan hidupku matiku, amalku hanya karena Engkau ya Allah
Seperti yang ku janjikan dipermulaan hariku
Seperit yang ku janjikan di setiap permulaan sholatku

Bukan karena siapapun
Cinta ku pada anak-anakku dan suamiku
Baktiku pada orang tuaku

Akan berjuang sampai akhir sampai engkau ridho padaku
Sampai aku menjadi jiwa  yang tenang

Mei 2024

Kamis, 12 Maret 2026

Bismillah

Dua belas tahun blog ini ditutup oleh pemiliknya. Saat aku ingat kebelakang, aku sungguh tidak tahu apa alasannya, lupa karena saking lamanya. Lupa bahwa pernah banyak menulis. 

Tahun ini 2026, aku ingin menulis kembali karena keresahan bahwa dunia ini sudah sedemikian rusaknya. Keresahan karena akhlak negeri ini sudah benar benar jauh dari yang seharusya. Aku ingin bersuara dan semoga suara ku didengar. Suara yang tidak berisik namun berharap sanggup untuk mengganggu perasaan barang sebentar. 

Dua belas tahun yang panjang. Menikah, punya anak yang sudah besar, punya pekerjaan tetap, sekolah spesialis, alhamdulillah pencapaian yang perlu dirayakan walau tidak seterang pencapaian orang lain. Sedemikian 12 tahun yang panjang itu tentu saja banyak sekali pengalaman reflektif yang ingin aku ingat-ingat satu satu untuk menuliskan hikmahnya. 

Membaca semua tulisan lama, sungguh terharu bisa mengenang diriku yang lama yang pernah seidealisme itu memandang hidup dan sungguh senang diriku yang sekarang yang sudah mengalami banyak hal dalam kehidupan. Pengalaman bahagia, pengalaman sedih, pengalaman datar yang aku bersyukur aku mengalaminya. Melihat orang-orang yang berbeda beda. Dalam 12 tahun aku telah pindah bekerja di 4 rumah sakit yang berbeda dan melihat berbagai macam orang serta melihat berbagai peristiwa.

Teman-teman silih berganti datang dan pergi. Hampir semua telah menikah dan punya anak. Kesibukan dan jarak yang jauh serta perbedaan prioritas tak lagi bisa merayakan untuk keberhasilan tiap tiap orang. Doaku menyertai sahabat-sehabat semoga Allah menjaga mereka, keluarga dan pekerjaan nya hingga sukses dan lancar. 

Selama 12 tahun tidak bersuara presiden telah berganti dari Jokowi ke Prabowo. Sosial media semakin menggila dengan segala pikatannya membuat selalu scrolling. Kemudian peristiwa tahun 2020 dimana lock down untuk virus covid. Serta 2 tahun belakang adanya AI yang mengubah segalanya. Namun yang pasti, Alquran tidak berubah dan perintah sebagai khalifah di muka bumi dan mnegabdi kepada Allah tidak berubah. 

Serta sekarang dunia di ambang batas untuk perang dunia ketiga karena Amerika dan Israel sekarang sedang berperang dengan Iran.

Akhirnya semoga blog dan tulisan ini menjadi warisan untuk anak-anakku sehingga saat besar uminya tidak perlu banyak bercerita tentang umi, sekitar dan dunia. 


Rabu, 31 Desember 2014

Bila

Bila bahagia, tak dapat diungkap lewat kata. Maka bahagia diungkap lewat syukur pada yang Maha Kuasa.

Bila terimakasih bahkan tak berarti lewat kata. Maka doa adalah bukti panjang yang tak diketahui siapapun jua

Jumat, 28 November 2014

Sabar di penghujung tahun

12 kali jaga dalam waktu 5 minggu. Berat rasanya di hari hari akhir seperti ini. Mungkin inilah cobaannya. Menyelesaikan satu demi satu yang harus diselesaikan.

Bila orang lain sudah selesai dan menuju ke urusan selanjutnya. Rasanya tidak patut untuk memaksakan diri mengejar ketertinggalan kesiapan.

Akan ada masa yang tepat, orang yang tepat, kesiapan yang tepat. Bila itu memakan waktu ribuan tahun, sabar yang panjang adalah harganya..

Undangan yang banyak di akhir tahun ini.. barokallah sahabat2ku.. menjadilah keluarga sakinah mawadah warohamah...

Disatukan

Selalu bertanya, mengapa beberapa orang dapat disatukan. Misalnya seperti indonesia yang disatukan karena latar belakang sejarah kelam 350 tahun.

Lalu mengapa kita disatukan, ulil
Mungkin karena kesamaan sudut pandang dan visi

Lalu mengapa kita disatukan, bro
Mungkin kita menempati rahim yang sama, satu sepersusuan dan satu ikatan darah

Lalu mengapa kita disatukan, nantinya
Mungkin karena kesamaan visi dan yang paling penting, karena Mu ya Allah

Salah

Untuk mengetahui kebenaran, sepertinya anda harus mengetahui teori, meyakini dalam hati, terjerumus dalam lubang kesalahan

Setelah itu, keyakinan itu dapat menancap kuat

Rabu, 22 Oktober 2014

Menyesal..

Aku fikir engkau bintang yang bersinar sangat terang
Namun terangnya tertutup awan
Namun kadang bersinar lebih terang terang

Kuizinkan sinarnya masuk ke celah jendela
Aku tutup jendelanya

Aku menyesal
Aku buka lagi jendelanya
Terlalu gelap

Dan tak kutemukan lagi cahaya bintang yang terang itu
Awan mana yang menutupinya
Aku mencari
Maukah kau tampak lagi, aku tak tau dimana kau bersembunyi
Dan jendelanya tak kan pernah kututup lagi

Madang, 22 Oktober,
Penyair yang tak bisa berungkap dengan kata kata jelas. Semoga huruf acak dapat mewakilkan makna..

Kamis, 16 Oktober 2014

Terima Kasih

Sederhana, tapi sungguh dari lubuk hatiku yang paling dalam yang aku terjemahkan menjadi sebuah perasaan yang bahkan lebih besar dari terimakasih itu.

Aku adalah penyair sehingga kadang aku takut aku melebih lebihkan perasaanku dibandingkan yang seharusnya ada. Tapi aku kembali meyakinkan, tidak, aku yakin, aku benar mencintai kalian.

Dengan kepribadian ku yang seperti ini, seandainya kalian tidak ada. Seandainya true friendship itu tidak ada, aku yakin aku akan kesepian yang lebih dalam dan akan sakit jiwa.

Tapi kalian ada. Untuk mendengarkan segala ocehan ku yang aneh. Segala pemikiran ku yang meloncat-loncat. Mau mengerti bahwa aku butuh waktu sendiri. Mau megajakku jalan, nonton, makan. Mau bercerita tentang gossip tertawa di  ruang bawah menertawakan sinero tidak lucu.

Pada awalnya aku adalah orang yang individualis yang merasa mampu untuk menaklukkan dunia ini. Egois dan merasa bisa segalanya. Bertemu dengan kalian, membuatku mengerti apa itu saling membtuhkan, apa itu ikatan, apa itu tenggang rasa, apa itu memaklumi.

Kalian mencontohkan kepadaku tentang Islam dan pengamalannya di dunia nyata.

Kalian adalah keajaiban dunia untukku. Di saat dunia luar dipenuh ketidakpercaayaan, keegoisan. Tapi kalian menunjukkkan banyak sifat-sifat baik yang harus ditiru. Banyak..

Kalian tahu, aku diliputi rasa takut karena tidak siap dengan perubahan. Akankah setelah ini kita bertemu lagi. Akankah setelah bertambah anggota keluarga baru semuanya tidak akan sama lagi.

Dan akhirnya aku tahu bahwa itu Sunatullah, yang datang akan pergi dan akan ada yang datang kembali.
Tapi benar, aku ingin ucapkan terimakasih untuk ketulusan kalian selama 5 tahun ini.

Kepada Allah aku mengucapkan syukur mendalam, karena telah menyandikngkan aku dengan kalian. Aku tak percaya, tapi bagiku ini keajaiban. Aku berharap setelah fase ini selesai dan aku menapaki ke fase yang baru, aku akan disandingkan dengan orang yang memiliki akhlak dan hati yang luar biasa, seperti kalian..

Terimakasih.
Dan ini tidak terlalu berlebihan.    

Madang, Palembang, 16 September 2014


Kebahagiaan


Pernahkah engkau iri kepada kebahagiaan orang lain dan merasa bahwa dirimu kesepian, sendiri. Aku tidak ahu bahwa aku mengalaminya sekarang. Perasaan sepi itu melanda dikala kita memang sedang tidak dikejar waktu

Lalu aku berfikir, apakah memang tidak bahagia ketika kita memutuskan sesuatu, memutuskan apa yang menjadi prinsip kita. Berat melakukannya karena kita lebih cenderung untuk hal yang lain.

Pada saat itu kemudian akan terfikir jadi untuk apa hidup ini. Aku meminta nasihat kepada orangtua dan sahabat dekat. Yah, bahwa rasa syukur yang mendalamlah yang menjadi tolak ukurnya. Engkau lebih sering melihat ke atas kepada kehidupan orang-orang yang lebih "kelihatan sempurna" tapi belum mleihat kepada kehidupan orang orang yang tidak seberuntung dirimu. Harusnya engkau bersyukur, banyak-banyak bersyukur.

Yah, aku menyetujui sambil berlinang air mata.

Madang, 6 September 2014

Senin, 28 Juli 2014

Dokter Yang Aku Impikan


Aku suka berada di sini. Yah, tapi kesukaanku berbeda dengan kesukaan kalian. Kalian mungkin suka dengan nilai A yang berderet. Mungkin juga ingin menjadi juara pertama dari 200 orang. Atau obsesi untuk referat dan ujian yang mengagumkan. Kalian tau, aku kadang ingin mengalah saja kalau seandainya ada rebutan untuk tindakan. Sampai kadang, aku bertanya, am I really become a good doctor?

Aku suka di sini  karena aku bertemu dengan banyak orang. Aku suka menikmati setiap ekspresi yang terpancar dari wajah-wajah orang yang berbeda dalam situasi yang tidak biasa. Situasi yang tidak bisa dibayangkan oleh orang awam. Situasi dimana hanya orang tertentu saja yang tahu. Yah, misalnya, ada orang yang nyawanya sudah satu-satu. Pada saat ini akan banyak ekspresi yang keluar. Dari keluarga pasien yang cemas sekali. Wajah kakak residen yang menyembunyikan keraguannya sampai wajah sehabat yang  ingin malam cepat berakhir.

Aku suka mempelajari orang-orang yang berbeda. Setiap bulannya, aku akan menemui hingga puluhan orang yang berbeda yang anda diharuskan cepat akrab dengan mereka kalau ingin hidup mudah dan selamat. Hal ini mudah untuk orang yang pandai bergaul atau orang cuek yang tidak ambil pusing dengan suatu hubungan. Namun sayang,  ini akan rumit bagi bagi orang yang menanggap sakralnya hubungan yang terjalin dan murninya sebuah hubungan tanpa motif di baliknya. Sayangnya tidak ada pilihan lain, suka atau tidak suka, anda memaksakan diri untuk akrab.

Walau begitu aku terus mengamati setiap kejadian yang berputar. Mengamati setiap orang dari setiap tindakan yang ia ambil dari suatu peristiwa. Akhirnya menyimpulkan karakter dasar orang tersebut. Pada akhirnya setiap orang adalah orang yang baik. Hanya setiap orang memiliki sudut pandang pemikiran yang berbeda atas suatu peristiwa. Sudut pandang inilah yang kadang akan memecah belah kita. Kita terlebih aku yang kadang terlalu berpasangka dan berspekulasi sehingga kadang menimbulkan ketidak-nyamanan ditambah aku memandang orang dengan tajam dan langsung pada matanya.

Kadang, aku dapat dengan mudah menebak perasaan orang lain, apa yang difikirkannya dan apa tindakan yang akan dia lakukan. Walau tidak 100% tepat aku akan terus  melatihnya.

Hingga akhirnya aku ingin bisa menghibur orang yang bersedih hanya dengan mengatakan "Aku mengerti" atau "Ceritakan saja padaku". "One day, I want to become your doctor, not only because I am using drug but also I am using my heart for curing your heart."

Menikmati Setiap Detiknya

Kau tidak dapat membayangkan betapa bahagia perasaan ku dalam minggu-minggu ini. Kami akhirnya dapat berkumpul bersama karena hitungan hari telah memisahkan kami. Kau tahu, aku sangat faham bahwa hari hari ini akan berakhir hingga ku nikmati lamat-lamat suasananya.
 
Kurasakan dalam-dalam kelezatan masakan ibu dan kupandangi ia lebih lama dalam tidurnya. Kudengarkan seluruh celotehan adikku walau kadang aku tak mengerti jalan fikirannya. Kukerjakan apapun yang kalian inginkan. Bahkan tidak kutinggalkan sejengkalpun rumah ini karena aku ingin menikmatinya.
 
Di sini aku kembali bernostalgia dengan hari-hari ku dahulu yang mana kilatan bayangannya beberapa telah lenyap. Malam-malam yang kuhabiskan dengan buku-buku yang terbuka, malam-malam yang kuhabiskan dalam kesendirian. Di meja ini, di kamar ini dimana segala mimpi bermulai. Di meja, meja yang hanya kusentuh seminggu saja dalam setiap tahunnya.
 
Kau tahu bahwa aku menahan diriku untuk bertanya, apa misteri dari merantau, apa hikmah dari pergi jauh dari tanah kelahiran?
 
Entahlah, tapi aku, beberapa hari ini akan menikmati setiap detiknya bersama mereka di sini, di tanah kelahiranku. Dan malam ini, aku menikmati setiap detiknya kamar ini bersama guruh deras hujan di luar.
 
Sungailiat, 28 Juli 2014

IGD ketika tengah malam


Kau tahu ketika habis jaga. Apa yang teman-teman lain akan bertanya? Gimana, IGD semalam, aman? Dan dengan gaya khasku, aku akan menjawab, "Nggak tidur, gila pasiennya," sambil memasang wajah kelelahan dan bertekuk tekuk.
 
Tahukah bahwa, sebenarnya aku sangat suka jaga IGD. Aku suka sensasinya. Kata teman-temanku. IGD itu persis seperti sinetron. Banyak kesedihan, pengharapan dan drama setiap harinya. IGD itu bewarna.
Aku suka mereka semua, suka sekali. Walau aku tak tahu nama mereka satu demi satu. Alasan aku menyukai mereka adalah dedikasi yang  tinggi untuk kemanusiaan. Memang, itu sudah tugasnya. Tugas orang-orang ini. Tapi bolehkah aku gambarkan kekagumanku tentang mereka.
 
Jam 12 malam, jam 1 malam, jam 3 malam, jam 4 malam. Semua orang sudah terlelap tidur di rumah masuk ke alam mimpi. Tenang menenangkan. Berkebalikan dengan IGD tengah malam. Keadaannya lumayan kacau balau kalau tidak ada pak satpam yang mengatur. Pasien kritis dan diambang kematian berdatangan. Mereka semua dengan sigap melakukan apa yang mereka harus lakukan. Mereka mengeluh hanya didalam hatinya, selebihnya tangan-tangan cekatan bekerja. Harus cepat, harus cepat karena mereka berlomba dengan waktu. Alhamdulillah dan pasien pun selamat. Kembali mereka memonitoring pasien. Bukan jam demi jam bahkan bisa setiap setengah jam atau hitungan menit.
 
Hiburan mereka adalah kelelahan dan malangnya nasib hari ini  yang akhirnya mereka jadikan lelucon. Kalau keletihan itu tidak ditertawakan, keletihan itulah yang akan mengikis semangat mereka. Maka, membuat lelucon itu akan mengalahkan keabsurdan dari menghitung hari dimana semuanya akan berakhir walau mereka tahu saat memutuskan jalan ini, maka tidak ada namanya hari akhir.
 
Mereka semua,  bahkan ada yang belum tidur sampai 24 jam, dan akan melanjutkan perjuangan menahan kantuk dan letih 12 jam lagi mungkin.  Yang membuat aku terenyuh, dengan apa seharusnya kita dapat membayar mereka. Pada akhirnya, kalau hanya untuk gaji sebulan yang mereka terima, atau karena takut dimarahi konsulen, atau karena takut tidak lulus, atau takut dimarahi senior, sepertinya  tidak akan seberapa untuk pengorbanan mereka. Sepertinya  aku merasakan, bukan itu yang membuat mereka ada disini untuk tetap bertahan di tengah malam ini. Karena memang sejak semula mereka sudah memilih, memilih jalan ini. Yah, jalan dan takdir mereka.
 
Suatu saat, aku membayangkan di hari senja mereka. Semuanya akan tersadar ini adalah kuasa dari yang   diatas yang menuliskan jalan serta takdir mereka jauh-jauh hari sehingga akhirnya takdir itu yang menumbuhkan  kekuatan untuk mereka. Kekuatan untuk bertahan di tengah malam. Kekuatan untuk bertahan dari keletihan yang menggoyahkan sendi, merapuhakan tulang, bahkan menghisap darah. Kekuatan untuk menyembunyikan segala duka dan mengutamakan orang lain.
 
That is their choice. When you come they will come soon and say "Here we are, what can we do for u?"
 
Palembang, 11 Juni 2014

Pecinta dan Penyair


Kadang aku sangat bahagia, menikmati puisi para pecinta dan penyair. Merasakan rasa yang sama dan kebodohan yang sama. Kadang aku berfikir, mengapa cinta begitu rumit untuk kita sedang orang lain dengan mudah berbahagia dengan pasangannya.
Yah, kalau seandainya cinta itu mudah kita dapatkan, manakah ada puisi-puisi putus asa, syair-syair menyayat sembilu?
Yah, kadang aku sampai pada kesimpulan, mengapa sulit bagi kita untuk mengatakan bahkan hanya untuk sekadar menampakkanya.
Bila akhirnya cinta kita terbang mengudara bebas dari tinta dan kertas yang telah menahannya sebegitu lama. Aku akan sangat bahagia.
Siapa yang duluan dari kita penyair cinta untuk mendapatkannya, Cinta yang telah kita nantikan?
 
Sungaiiat, 28 Juli 2014

Senin, 21 Juli 2014

Di bawah langit yang sama

Kita berada di bawah langit yang sama
Menginjak bumi yang sama
Hanya waktunya belumlah tiba
Hingga ku menahan diriku untuk bersedih dan merindu terlau dalam
Bukankah
Klw seandainya Allah sudah menyegerakan tak ada yang dapat menangguhkan
Dan bila Allah menangguhkan maka tak ada juga yang dapat menyegerakan