Kau tahu ketika
habis jaga. Apa yang teman-teman lain akan bertanya? Gimana, IGD semalam, aman?
Dan dengan gaya khasku, aku akan menjawab, "Nggak tidur, gila
pasiennya," sambil memasang wajah kelelahan dan bertekuk tekuk.
Tahukah bahwa,
sebenarnya aku sangat suka jaga IGD. Aku suka sensasinya. Kata teman-temanku.
IGD itu persis seperti sinetron. Banyak kesedihan, pengharapan dan drama setiap
harinya. IGD itu bewarna.
Aku suka mereka
semua, suka sekali. Walau aku tak tahu nama mereka satu demi satu. Alasan aku
menyukai mereka adalah dedikasi yang
tinggi untuk kemanusiaan. Memang, itu sudah tugasnya. Tugas orang-orang
ini. Tapi bolehkah aku gambarkan kekagumanku tentang mereka.
Jam 12 malam, jam 1
malam, jam 3 malam, jam 4 malam. Semua orang sudah terlelap tidur di rumah
masuk ke alam mimpi. Tenang menenangkan. Berkebalikan dengan IGD tengah malam.
Keadaannya lumayan kacau balau kalau tidak ada pak satpam yang mengatur. Pasien
kritis dan diambang kematian berdatangan. Mereka semua dengan sigap melakukan
apa yang mereka harus lakukan. Mereka mengeluh hanya didalam hatinya,
selebihnya tangan-tangan cekatan bekerja. Harus cepat, harus cepat karena
mereka berlomba dengan waktu. Alhamdulillah dan pasien pun selamat. Kembali
mereka memonitoring pasien. Bukan jam demi jam bahkan bisa setiap setengah jam
atau hitungan menit.
Hiburan mereka
adalah kelelahan dan malangnya nasib hari ini
yang akhirnya mereka jadikan lelucon. Kalau keletihan itu tidak
ditertawakan, keletihan itulah yang akan mengikis semangat mereka. Maka,
membuat lelucon itu akan mengalahkan keabsurdan dari menghitung hari dimana
semuanya akan berakhir walau mereka tahu saat memutuskan jalan ini, maka tidak
ada namanya hari akhir.
Mereka semua,
bahkan ada yang belum tidur sampai 24 jam, dan akan melanjutkan
perjuangan menahan kantuk dan letih 12 jam lagi mungkin. Yang membuat aku terenyuh, dengan apa
seharusnya kita dapat membayar mereka. Pada akhirnya, kalau hanya untuk gaji
sebulan yang mereka terima, atau karena takut dimarahi konsulen, atau karena
takut tidak lulus, atau takut dimarahi senior, sepertinya tidak akan seberapa untuk pengorbanan mereka.
Sepertinya aku merasakan, bukan itu yang
membuat mereka ada disini untuk tetap bertahan di tengah malam ini. Karena
memang sejak semula mereka sudah memilih, memilih jalan ini. Yah, jalan dan
takdir mereka.
Suatu saat, aku
membayangkan di hari senja mereka. Semuanya akan tersadar ini adalah kuasa dari
yang diatas yang menuliskan jalan serta
takdir mereka jauh-jauh hari sehingga akhirnya takdir itu yang menumbuhkan kekuatan untuk mereka. Kekuatan untuk
bertahan di tengah malam. Kekuatan untuk bertahan dari keletihan yang
menggoyahkan sendi, merapuhakan tulang, bahkan menghisap darah. Kekuatan untuk
menyembunyikan segala duka dan mengutamakan orang lain.
That is their
choice. When you come they will come soon and say "Here we are, what can
we do for u?"
Palembang, 11 Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar