Senin, 28 Juli 2014

IGD ketika tengah malam


Kau tahu ketika habis jaga. Apa yang teman-teman lain akan bertanya? Gimana, IGD semalam, aman? Dan dengan gaya khasku, aku akan menjawab, "Nggak tidur, gila pasiennya," sambil memasang wajah kelelahan dan bertekuk tekuk.
 
Tahukah bahwa, sebenarnya aku sangat suka jaga IGD. Aku suka sensasinya. Kata teman-temanku. IGD itu persis seperti sinetron. Banyak kesedihan, pengharapan dan drama setiap harinya. IGD itu bewarna.
Aku suka mereka semua, suka sekali. Walau aku tak tahu nama mereka satu demi satu. Alasan aku menyukai mereka adalah dedikasi yang  tinggi untuk kemanusiaan. Memang, itu sudah tugasnya. Tugas orang-orang ini. Tapi bolehkah aku gambarkan kekagumanku tentang mereka.
 
Jam 12 malam, jam 1 malam, jam 3 malam, jam 4 malam. Semua orang sudah terlelap tidur di rumah masuk ke alam mimpi. Tenang menenangkan. Berkebalikan dengan IGD tengah malam. Keadaannya lumayan kacau balau kalau tidak ada pak satpam yang mengatur. Pasien kritis dan diambang kematian berdatangan. Mereka semua dengan sigap melakukan apa yang mereka harus lakukan. Mereka mengeluh hanya didalam hatinya, selebihnya tangan-tangan cekatan bekerja. Harus cepat, harus cepat karena mereka berlomba dengan waktu. Alhamdulillah dan pasien pun selamat. Kembali mereka memonitoring pasien. Bukan jam demi jam bahkan bisa setiap setengah jam atau hitungan menit.
 
Hiburan mereka adalah kelelahan dan malangnya nasib hari ini  yang akhirnya mereka jadikan lelucon. Kalau keletihan itu tidak ditertawakan, keletihan itulah yang akan mengikis semangat mereka. Maka, membuat lelucon itu akan mengalahkan keabsurdan dari menghitung hari dimana semuanya akan berakhir walau mereka tahu saat memutuskan jalan ini, maka tidak ada namanya hari akhir.
 
Mereka semua,  bahkan ada yang belum tidur sampai 24 jam, dan akan melanjutkan perjuangan menahan kantuk dan letih 12 jam lagi mungkin.  Yang membuat aku terenyuh, dengan apa seharusnya kita dapat membayar mereka. Pada akhirnya, kalau hanya untuk gaji sebulan yang mereka terima, atau karena takut dimarahi konsulen, atau karena takut tidak lulus, atau takut dimarahi senior, sepertinya  tidak akan seberapa untuk pengorbanan mereka. Sepertinya  aku merasakan, bukan itu yang membuat mereka ada disini untuk tetap bertahan di tengah malam ini. Karena memang sejak semula mereka sudah memilih, memilih jalan ini. Yah, jalan dan takdir mereka.
 
Suatu saat, aku membayangkan di hari senja mereka. Semuanya akan tersadar ini adalah kuasa dari yang   diatas yang menuliskan jalan serta takdir mereka jauh-jauh hari sehingga akhirnya takdir itu yang menumbuhkan  kekuatan untuk mereka. Kekuatan untuk bertahan di tengah malam. Kekuatan untuk bertahan dari keletihan yang menggoyahkan sendi, merapuhakan tulang, bahkan menghisap darah. Kekuatan untuk menyembunyikan segala duka dan mengutamakan orang lain.
 
That is their choice. When you come they will come soon and say "Here we are, what can we do for u?"
 
Palembang, 11 Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar