Etika dan norma ini
dipelajari ketika MKU di Inderalaya kemarin. Tepatnya pada mata pelajaran ISBD
yakni Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Pada saat itu, saya masih ingat teman-teman
maju ke depan kelas dan mempresentasikan definisi dari etika dan norma tersebut.
Saya pun bertanya, apa perbedaan antara etika, akhlak dan norma. Teman-teman
menjelaskan dan saya tidak mengerti. Yah, sangat sulit untuk mengerti
definisinya apabila dijelaskan dengan bahasa filsafat seperti itu. Tapi izinkan
saya untuk menjelaskan dengan pemikiran saya sendiri.
Jadi, etika secara
singkat adalah ilmu yang mengatur bagaimana cara berprilaku dan etika ini
konteksnya lebih resmi daripada norma. Etika sering dipakai dalam bidang
keilmuan dan sesuatu yang terkesan lebih intelek contohnya di kedokteran
sendiri ada kode etik dokter yang mengatur bagaimana seharusnya seorang dokter
berprilaku.
Saya berfikir
tentang etika lain yakni etika menjadi seorang akhwat. 'Akhwat' yang saya
maksud disini sudah mengalami penyempitan makna. Yah etika yang lebih saya
tekankan bagaimana seorang wanita menjaga sopan santun dalam interaksi sosial
sebagai seorang 'akhwat'.
Dahulu, saya sering
kagum dengan mba-mba berjilbab panjang dan tebal dengan segala keanggunan
dan lemah-lembut. Kekaguman yang
akhirnya berimbas menjadi proses imitasi, identifikasi atau apalah. Namun,
berkeinginan tidak semudah melaksanakannya. Banyak faktor pendukung yang harus
ada selain motivasi di dalam hati yakni faktor lingkungan.
Mudah sekali untuk
menjadi seorang akhwat di dalam lingkungan yang kondusif dimana seluruh teman-teman adalah
akhwat-akhwat yang 'menjaga'. Linkungan kondusif dimana semua orang seragam
dengan pola fikir yang sama untuk menjaga etika ini terlepas bagaimana ibadah
individual. Etika ini penting untuk dijaga karena yang pertama kali dilihat
dari sesorang adalah etika dan bagaimana bertindak tanduk dalam lingkungan
sosial sehari-hari. Bilapun seandainya hati kita tidak baik, menjaga etika bukanlah hal yang munafik karena kita sedang
berusaha untuk menampilkan yang terbaik.
Faktor lingkungan
juga akan menambah semangat bukan kekecewaan dan bukan kemunduran. Sehingga apa
yang salah jika saudara-saudara kita dan diri kita sendiri mengalami kemunduran
dalam hal etika ini. Kemunduran dalam berprilaku, menjaga hati, menjaga interaksi
dan menjaga hal-hal yang sering kita katakan 'saklek'. Yah, apa yang salah
apakah lingkungan yang multikultural, lingkungan yang hedon, televisi, film,
internet atau kita sendiri.
Mungkin, kita
sendirilah yang tidak saling menjaga saudara-saudara kita termasuk saya
sendiri. Kita yang kurang menasehati dalam hikmah, kita yang terlalu segan
untuk mengeluarkan kata tidak suka, kita yang terlalu berat untuk menyatakan
itu tidak baik. Kita yang kekurangan menasehati dalam hal yang ma'ruf dan
mencegah dari yang mungkar.
Karena apa? Karena
setiap kita takut untuk menyakiti dan disakiti. Kita akan menjauh dan
berprasangka tentang saudara kita bila dikritik. Setiap kita dan terlebih-lebih
saya. Hal lainnya adalah kita sering merasa tidak sempurna sehingga tidak
pantas untuk menasehati. Padahal seharusnya, ada satu ruang lagi di dalam hati
kita untuk saudara kita yakni ruang salah dan ruang maaf. Yang saya sendiri pun
belum banyak menyediakan ruang tersebut.
Entah sebenarnya,
Apa kita masih menjujung nilai-nilai etika dan ke'saklekan' itu? Atau kita
ingin menggerusnya supaya lebih mudah beradaptasi. Kita sedang diuji pada
lingkungan sebenarnya yang jauh dari keseragaman. Kita diuji tanpa dengan
sedikit panutan dan pemimpin sedang sebenarnya panutan dan pemimpin itu ada
pada diri kita masing-masing. Ingin memberikan contoh yang terbaik untuk ditiru
atau contoh buruk yang juga lebih besar pengaruhnya untuk ditiru. Kita hidup
dalam interaksi sosial yang saling meng-imitasi.
Bagaimana rupa teman kita seperti itulah kita.
Bagaimana solusinya?
Atau kita biarkan saja hal ini karena tidak ada yang salah walau hati kecil
kita tahu mana yang salah atau tidak. Atau kita ingin mulai dari awal. Dimana
kita ingin mencontoh persaudaraan-persaudaraan pendahulu kita. Wallaualam
Terimakasih karena
telah memberikan banyak contoh baik yang ingin saya tiru dari kalian semua.
Tapi saya ingin sekali memperbaiki kekurangan-kekurangan fatal kita bukan
berarti saya tidak dapat menerima kekurangan karena setiap dari kita pasti
diharuskan untuk mengejar kesempurnaan.
Wallahualam
bissawab. Sesuatu yang keras adalah untuk menasehati diri saya sendiri.
"Dan dia Allah yang mempersatukan hati mereka (orang
yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi,
niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah
mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Maha Bijaksana."
Q.S (Al Anfal :63)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar