Sabtu, 12 Januari 2013

Etika dan Norma


Etika dan norma ini dipelajari ketika MKU di Inderalaya kemarin. Tepatnya pada mata pelajaran ISBD yakni Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Pada saat itu, saya masih ingat teman-teman maju ke depan kelas dan mempresentasikan definisi dari etika dan norma tersebut. Saya pun bertanya, apa perbedaan antara etika, akhlak dan norma. Teman-teman menjelaskan dan saya tidak mengerti. Yah, sangat sulit untuk mengerti definisinya apabila dijelaskan dengan bahasa filsafat seperti itu. Tapi izinkan saya untuk menjelaskan dengan pemikiran saya sendiri.

Jadi, etika secara singkat adalah ilmu yang mengatur bagaimana cara berprilaku dan etika ini konteksnya lebih resmi daripada norma. Etika sering dipakai dalam bidang keilmuan dan sesuatu yang terkesan lebih intelek contohnya di kedokteran sendiri ada kode etik dokter yang mengatur bagaimana seharusnya seorang dokter berprilaku.

Saya berfikir tentang etika lain yakni etika menjadi seorang akhwat. 'Akhwat' yang saya maksud disini sudah mengalami penyempitan makna. Yah etika yang lebih saya tekankan bagaimana seorang wanita menjaga sopan santun dalam interaksi sosial sebagai seorang 'akhwat'.

Dahulu, saya sering kagum dengan mba-mba berjilbab panjang dan tebal dengan segala keanggunan dan  lemah-lembut. Kekaguman yang akhirnya berimbas menjadi proses imitasi, identifikasi atau apalah. Namun, berkeinginan tidak semudah melaksanakannya. Banyak faktor pendukung yang harus ada selain motivasi di dalam hati yakni faktor lingkungan.

Mudah sekali untuk menjadi seorang akhwat di dalam lingkungan yang kondusif  dimana seluruh teman-teman adalah akhwat-akhwat yang 'menjaga'. Linkungan kondusif dimana semua orang seragam dengan pola fikir yang sama untuk menjaga etika ini terlepas bagaimana ibadah individual. Etika ini penting untuk dijaga karena yang pertama kali dilihat dari sesorang adalah etika dan bagaimana bertindak tanduk dalam lingkungan sosial sehari-hari. Bilapun seandainya hati kita tidak baik, menjaga etika  bukanlah hal yang munafik karena kita sedang berusaha untuk menampilkan yang terbaik.

Faktor lingkungan juga akan menambah semangat bukan kekecewaan dan bukan kemunduran. Sehingga apa yang salah jika saudara-saudara kita dan diri kita sendiri mengalami kemunduran dalam hal etika ini. Kemunduran dalam berprilaku, menjaga hati, menjaga interaksi dan menjaga hal-hal yang sering kita katakan 'saklek'. Yah, apa yang salah apakah lingkungan yang multikultural, lingkungan yang hedon, televisi, film, internet atau kita sendiri.

Mungkin, kita sendirilah yang tidak saling menjaga saudara-saudara kita termasuk saya sendiri. Kita yang kurang menasehati dalam hikmah, kita yang terlalu segan untuk mengeluarkan kata tidak suka, kita yang terlalu berat untuk menyatakan itu tidak baik. Kita yang kekurangan menasehati dalam hal yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Karena apa? Karena setiap kita takut untuk menyakiti dan disakiti. Kita akan menjauh dan berprasangka tentang saudara kita bila dikritik. Setiap kita dan terlebih-lebih saya. Hal lainnya adalah kita sering merasa tidak sempurna sehingga tidak pantas untuk menasehati. Padahal seharusnya, ada satu ruang lagi di dalam hati kita untuk saudara kita yakni ruang salah dan ruang maaf. Yang saya sendiri pun belum banyak menyediakan ruang tersebut.

Entah sebenarnya, Apa kita masih menjujung nilai-nilai etika dan ke'saklekan' itu? Atau kita ingin menggerusnya supaya lebih mudah beradaptasi. Kita sedang diuji pada lingkungan sebenarnya yang jauh dari keseragaman. Kita diuji tanpa dengan sedikit panutan dan pemimpin sedang sebenarnya panutan dan pemimpin itu ada pada diri kita masing-masing. Ingin memberikan contoh yang terbaik untuk ditiru atau contoh buruk yang juga lebih besar pengaruhnya untuk ditiru. Kita hidup dalam interaksi sosial yang saling meng-imitasi. Bagaimana rupa teman kita seperti itulah kita.

Bagaimana solusinya? Atau kita biarkan saja hal ini karena tidak ada yang salah walau hati kecil kita tahu mana yang salah atau tidak. Atau kita ingin mulai dari awal. Dimana kita ingin mencontoh persaudaraan-persaudaraan pendahulu kita. Wallaualam

Terimakasih karena telah memberikan banyak contoh baik yang ingin saya tiru dari kalian semua. Tapi saya ingin sekali memperbaiki kekurangan-kekurangan fatal kita bukan berarti saya tidak dapat menerima kekurangan karena setiap dari kita pasti diharuskan untuk mengejar kesempurnaan.

Wallahualam bissawab. Sesuatu yang keras adalah untuk menasehati diri saya sendiri.

"Dan dia Allah yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Maha Bijaksana." Q.S (Al Anfal :63)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar