Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Maret 2013

Stase Gigi dan Mulut. Merawat gigi

Stase pertama yang terlewati ini adalah gigi dan mulut yang katanya adalah stase yang paling santai. Dan yah, memang sedemikian adanya. Setiap hari hanya kuliah atau bimbingan sekitar 2 jam dan selebihnya duduk lalu pulang jam satu. Hal ini berkebalikan 100 derajat dengan sahabat-sahabat saya di kosan yang pulang sore dan terlihat lelah sekali.
 
Yah, semuanya ada gilirannya. Nantinya pun saya akan melewati stase yang sama seperti mereka.
 
Hikmah stase ini banyak yang didapat. Biasanya satu tahun kebelakang kuliah yang ada hanya review-review pelajaran sebelumnya saja, sedangkan disini saya mengalami perasaan tercengang dan bahagia karena merasa tahu dari yang tidak tahu sama sekali sebelumnya tentang gosok gigi dan merawat gigi.
 
Gigi itu penting karena ada manfaat estetika serta fungsi urgen seperti makan dan berbicara. Gigi juga penting karena kalau tidak dirawat akan menyebabkan penyakit yang akan menghabiskan uang, waktu dan perasaan.
 
Jadi, inilah yang kami alami bersama yakni perasaan menyesal kenapa tidak dari awal merawat gigi dengan baik. Yang akibatnya sekarang gigi-gigi banyak yang rusak dan butuh lebih banyak lagi biaya untuk merawatnya.
 
Gigi-gigi yang rusak ini diakibatkan oleh caries (lubang gigi). Awalnya disebabkan oleh sisa makanan seperti gula dan karbohidrat yang tidak segera dibersihkan. Sisa makanan ini kemudian dimetabolisme oleh mikroorganisme dalam gigi dan menghasilkan asam. Asam inilah yang mempercepat rusaknya gigi dengan cara mempercepat hilangnya kalsium dan mineral dari email gigi. Setelah itu gigi rentan untuk berlubang dan mikrorganisme dengan mudah menginvasi gigi dengan membuat lubang lebih dalam lagi. Menyedihkan.
 
Namun, hal ini dapat dicegah sedari dini hanya dengan menggosok gigi minimal 2 kali sehari setelah makan dan sebelum tidur. Hal ini dapat menghilangkan sisa makanan di dalam gigi sehingga mmperlambat terjadinya pembusukan oleh mikrooragnisme. Juga fluoride dari pasta gigi akan melapisi gigi kembali setelah hilangnya kalsium dan mineral.
 
Menggosok gigi itupun harus dilakukan dengan benar. Katanya pilih bulu sikat yang halus dan kepala sikat yang kecil. Bulu sikat yang halus ini dapat mencegah terjadinya iritasi gusi. Menyikat gigi juga jangan keras-keras tapi sewajarnya yang penting sisa makanan dapat terbuang. Menyikat gigi juga ada tekniknya yang sulit saya ceritakan disini. Baiknya nanti surfing lagi info yang benarnya bagaimana.
 
Mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Mencegah itu dengan cara menjaga dan merawat kesehatan tubuh ini dengan makanan bergizi, olahraga, menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Dan jargon ini akan benar-benar terngiang-ngiang kalau mengalaminya. Ketika yang menjadi korban adalah uang, waktu dan perasaan. (Setelah tahu bahwa biaya berobat dan menampal gigi itu mahal). 
 
Demikianlah singkatnya hikmah satu minggu stase ini.
 
Semoga Allah selalu melimpahi kesehatan untuk kita semua. Amiin.
 

Minggu, 16 September 2012

Better Half

Dia adalah Prof Tan Malaka yang juga punya gelar doctor di bidang Public Health. Beliau mengajar ilmu kesehatan masyarakat kepada kami pada blok 20 yakni blok Statitik dan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Yang saya tahu selama 2 hari beliau mengajar maka selama 2 hari itu juga saya merasa seperti ikut les Bahasa Inggris lagi. Bagaimana tidak? Seluruh kuliahnya diajarkan dalam bahasa Inggris dan sesekali Profesor ini mengetes “pengucapan” beberapa teman.

Awalnya membosankan akan tetapi jika memdengarkan dengan seksama maka kuliahnya adalah kuliah yang membuka wawasan dan imajinasi. Secara keseluruhan menarik namun di sesi yang terakhir beliau bergurau mengenai istrinya. Kira-kira ini yang dikatakannya “Kalau saya ingin memperkenalkan istri saya, maka saya tidak mengucapkan ‘Ini adalah istri saya, saya akan memperkenalkannya sebagai “My Better Half".

Ampun dah, saya juga langsung meluluh dan langsung bergumam “Kapan yah, ada yang menyebut saya sebagai ‘Better half nya”?

MUTISME SELEKTIF

Saya tidak akan membahas Mutisme Selektif berdasarkan pengertian yang sebenarnya. Pertama kali saya mendengar kata-kata ini ketika saya membaca buku  ilmu jiwa untuk kedokteran yang dikarang oleh Kaplan dan sadock. Mutisme Selektif didefinisikan sebagai gangguan pada anak-anak yang tidak dapat berbicara dan bersosialisasi kepada lingkungannya padahal sebenarnya anak tersebut dapat berbicara dengan baik namun ia hanya berbicara kepada keluarga intinya saja semisal ibu, ayah dan saudaranya.

Suatu yang saya sangat syukuri adalah dapat belajar ilmu kejiwaan. Selama belajar ilmu kedokteran, blok 16 adalah blok yang paling berkesan. Blok 16 adalah blok Ilmu Jiwa. Saya hampir dapat menjawab semua pertanyaan saya tentang diri saya dan keanehan yang saya alami. Saya tidak gila namun saya menyadari bahwa ada sedikit yang agak lain dalam psikologi saya. Saya ingin menangis rasanya bukan karena sedih tapi karena bahagia dan terharu bahwa di dunia ini kelainan jiwa telah didefinsikan dan saya tidak sendiri –bukan berarti saya gila-.  Orang-orang yang berlarian di jalan tanpa pakaian membuat kita bersyukur bahwa kita cukup normal. Mereka pun tidak pernah sadar apa yang mereka lakukan karena memang ada penyakit di dalam diri mereka dan ada kesalahan  di dalam otak mereka.

Kejiwaan diri kita adalah gabungan dari pengalaman-pengalaman hidup dan daya tahan kita dalam menghadapinya dan membentuk karakter diri kita sekarang. Saya telah memaklumi diri saya sendiri sehingga saya santai dan tidak ingin merasa khawatir. Saya mungkin “Mutisme Selektif” namun bukan dalam makna sebenarnya. Saya “Mutisme Selektif” menurut istilah saya sendiri. Bahkan teman dekat saya punya kata-kata lain untuk menyebutnya. Kalau ia lebih senang dengan kata “Persona”. Jadi 2 kata yang saya maksudkan tadi bermakna  seseorang yang pendiam dan tidak ingin berbasa basi dengan orang lain padahal aslinya orang tersebut hangat dan menyenangkan untuk orang-orang terdekatnya. Saya pun tidak mengerti mengapa saya seperti itu. Kadang saya sedih tapi walaupun saya berusaha keras untuk mengubahnya, sifat itu akan hilang namun sifat dasarnya tetap akan kembali.

Walaupun begitu kita harus tetap bersyukur. Karena dengan segala kekurang yang ada Allah juga memberikan banyak kelebihan kepada  diri kita. Ketakutan-ketakutan dan rasa tidak kepercayaan di dalam diri ini tidak akan saya hilangkan namun saya akan membiarkannya alami keluar. Saya tidak ingin berusaha keras untuk berubah tapi membuat saya merasa tidak nyaman. Saya telah mencari alasan mengapa saya seperti itu dan saya telah menemukan alasannya. Mungkin sekarang saya belum menemukan hikmah mengapa saya seperti ini dan orang lain seperti itu namun, kelak ketika kehidupan telah berjalan saya akan menemukan hikmah di balik karakter dan sifat ini.

Sahabat, aku ingin menjadi orang yang hangat, yang tidak membahayakan, yang siap membantu. Bantulah aku untuk juga bisa mendekat hingga hilang semua prasangka yang tercipta di hati-hati kita. Beribu cerita tentang kejahatan dan berjuta fikiran negatif yang ada di fikiran kita tentang orang lain. Namun, aku ingin tetap percaya bahwa semua orang baik, semua orang setia, dan semua orang ingin mengusahakan kebaikan. Walaupun diri ini tidak hangat untuk banyak orang tapi aku ingin selalu menjadi yang terhangat untuk kalian.