Minggu, 16 September 2012

MUTISME SELEKTIF

Saya tidak akan membahas Mutisme Selektif berdasarkan pengertian yang sebenarnya. Pertama kali saya mendengar kata-kata ini ketika saya membaca buku  ilmu jiwa untuk kedokteran yang dikarang oleh Kaplan dan sadock. Mutisme Selektif didefinisikan sebagai gangguan pada anak-anak yang tidak dapat berbicara dan bersosialisasi kepada lingkungannya padahal sebenarnya anak tersebut dapat berbicara dengan baik namun ia hanya berbicara kepada keluarga intinya saja semisal ibu, ayah dan saudaranya.

Suatu yang saya sangat syukuri adalah dapat belajar ilmu kejiwaan. Selama belajar ilmu kedokteran, blok 16 adalah blok yang paling berkesan. Blok 16 adalah blok Ilmu Jiwa. Saya hampir dapat menjawab semua pertanyaan saya tentang diri saya dan keanehan yang saya alami. Saya tidak gila namun saya menyadari bahwa ada sedikit yang agak lain dalam psikologi saya. Saya ingin menangis rasanya bukan karena sedih tapi karena bahagia dan terharu bahwa di dunia ini kelainan jiwa telah didefinsikan dan saya tidak sendiri –bukan berarti saya gila-.  Orang-orang yang berlarian di jalan tanpa pakaian membuat kita bersyukur bahwa kita cukup normal. Mereka pun tidak pernah sadar apa yang mereka lakukan karena memang ada penyakit di dalam diri mereka dan ada kesalahan  di dalam otak mereka.

Kejiwaan diri kita adalah gabungan dari pengalaman-pengalaman hidup dan daya tahan kita dalam menghadapinya dan membentuk karakter diri kita sekarang. Saya telah memaklumi diri saya sendiri sehingga saya santai dan tidak ingin merasa khawatir. Saya mungkin “Mutisme Selektif” namun bukan dalam makna sebenarnya. Saya “Mutisme Selektif” menurut istilah saya sendiri. Bahkan teman dekat saya punya kata-kata lain untuk menyebutnya. Kalau ia lebih senang dengan kata “Persona”. Jadi 2 kata yang saya maksudkan tadi bermakna  seseorang yang pendiam dan tidak ingin berbasa basi dengan orang lain padahal aslinya orang tersebut hangat dan menyenangkan untuk orang-orang terdekatnya. Saya pun tidak mengerti mengapa saya seperti itu. Kadang saya sedih tapi walaupun saya berusaha keras untuk mengubahnya, sifat itu akan hilang namun sifat dasarnya tetap akan kembali.

Walaupun begitu kita harus tetap bersyukur. Karena dengan segala kekurang yang ada Allah juga memberikan banyak kelebihan kepada  diri kita. Ketakutan-ketakutan dan rasa tidak kepercayaan di dalam diri ini tidak akan saya hilangkan namun saya akan membiarkannya alami keluar. Saya tidak ingin berusaha keras untuk berubah tapi membuat saya merasa tidak nyaman. Saya telah mencari alasan mengapa saya seperti itu dan saya telah menemukan alasannya. Mungkin sekarang saya belum menemukan hikmah mengapa saya seperti ini dan orang lain seperti itu namun, kelak ketika kehidupan telah berjalan saya akan menemukan hikmah di balik karakter dan sifat ini.

Sahabat, aku ingin menjadi orang yang hangat, yang tidak membahayakan, yang siap membantu. Bantulah aku untuk juga bisa mendekat hingga hilang semua prasangka yang tercipta di hati-hati kita. Beribu cerita tentang kejahatan dan berjuta fikiran negatif yang ada di fikiran kita tentang orang lain. Namun, aku ingin tetap percaya bahwa semua orang baik, semua orang setia, dan semua orang ingin mengusahakan kebaikan. Walaupun diri ini tidak hangat untuk banyak orang tapi aku ingin selalu menjadi yang terhangat untuk kalian.