Senin, 31 Maret 2014

Mereka Yang Saya Temui di Stase Jiwa


Tulisan ini melanjutkan lagi tulisan tentang stase jiwa yang telah aku lalui.
Ketika kita melihat orang yang menderita, maka pada saat itu rasa syukur yang akan selalu bernaung di dalam hati. Inilah yang terjadi apabila kita melihat orang sakit. Kita akan merasa bahwa keadaan kita setidak enak apapun itu akan jauh lebih baik dibandingkan apa yang mereka alami.
Suatu saat di stase jiwa, saya mengetahui seorang pasien bernama DA yang dirawat di bangsal RSJ  karena mengalami Skizofrenia. DA ini masuk rumah sakit setelah sebelumnya dia berobat ke poli. Pada saat itu saya juga sedang bertugas di poli. Pada saat itu keadaan DA sangat kacau. Dia tertawa sendiri dan bertingkah seakan-akan melihat ada orang di depannya dan orang yang ia lihat ini tidak bisa saya lihat. DA sama sekali tidak nyambung ketika diajak berbicara, apa yang ditanya apa yang ia jawab. Pandangan matanya menakutkan. Akhirnya psikater memutuskan DA untuk di rawat bangsal. Alhamdulillah, ketika besok-besoknya saya berugas di bangsal untuk follow up, saya melihat lagi keadaan DA  yang sudah mengalami perubahan. Pada saat itu DA tidak lagi terlihat kacau dan mampu bercakap-cakap serta dapat menjawab pertanyaan saya dengan logis dan benar. Yah, fase psikotiknya berakhir karena sudah mendapatkan perawatan dan obat-obatan.
Namun, saya tidak pernah tahu kalau DA ini ternyata menderita hal lain. Saya fikir selain gangguan jiwa yang dideritanya, DA sehat fisik seperti pasien jiwa lain pada umumnya. Ternyata DA in memakai protesa pada salah satu kakinya. Ya, satu kakinya telah diamputasi. Saya mengetahuinya ketika saya berkunjung ke salah satu bangsal pada suatu hari yang lain dan melihatnya memakai protesanya dengan suatu cara tertentu agar alat bantu itu dapat melekat kuat dan nyaman ketika diajak berjalan-jalan.  Setelah selesai memakai alat bantunya itu, ia bangkit berdiri dengan bersangga dan tersenyum pada saya yang sedari tadi mengamatinya. Hati saya terenyuh yang sulit saya gambarkan dengan kata-kata. Alhasil, hari itu saya yang sedang bad mood menjadi semangat sekali. Betapa tidak bersyukurnya saya terhadap kehidupan ini  jika saya malas-malasa dan tidak bersemangat.
Ada lagi pasien lain yang berkesan untuk saya yakni pasien yang sayat temui di poli yang berinisial RZ. Pasien ini adalah favorit Koas sebenarnya pasien favorit saya. Yang  pertama kali mewancarai pasien ini di poli adalah saya. RZ labil sekali.  Suatu ketika RZ bercerita dengan semangat sekali menceritakan identitasnya . Ketika saya mulai menanyakan apa keluhannya , RZ tiba-tiba menangis sambil menunduk yang membuat saya bingung. Tiba-tiba RZ marah dan memaki-maki serta menggebrak meja setelah itu mengepalkan tangannya di hadapan saya. Tentu saja, saya terkejut dan ketakutan. Namun, saya sembunyikan dan saya berpura-pura tetap tenang.
 "Kakak sabar, tenang yah, setelah ni kita ke psikiaternya yah."
 "Yah Dok, maaf, maaf, maaf, dok Saya ingin sembuh dok, tlong saya Dok," Rizal pun mengiba-iba kepada saya.
 Tidak sampai di situ saja keanehan yang ditampakkan oleh RZ. Ketika RZ diwawancarai oleh psikiater, RZ bertingkah yang aneh-aneh (tentu karena gangguan jiwanya). RZ bergerak-gerak tidak karuan yang menurut kami lucu sekali. RZ bergerak-gerak seakan-akan sedag jogging, sedang menari, sedang dugem, sednag menyetir dan hal lainnya. RZ tidak berhenti bicara sedikitpun dan ada saja yang ia komentari dan RZ tidak merasa lelah sedikitpun. Karena tingkah dan prilakunya yang aneh dan lucu-lucu, kami pun jadi tertawa yang tidak dapat ditahan sampai sakit perut. Karena fase psikotiknya yang dialaminya ini, akhirnya RZ dirawat di bangsal.
 Sorenya, ketika saya yang kebetulan sedang jaga ingin sekali melihat keadaannya. Saya melihatnya dari kejauhan. Alhamdulillah,  RZ dalam keadaan yang normal dan tidak dalam keadaanpsikotik lagi walaupun masih dalam keadaan bingung.  Pagi besoknya saya yang kebetulan bertugas di bangsal dan kebetulan bertemu dengan RZ menyapanya dan bertanya apa kabarnya. Namun, tampaknya RZ tidak mengenali walaupun begitu senangnya RZ dalam keadaan tenang dan tidak bertingkahl labil seperti kemarin lagi.
Ada lagi beberapa pasien di Poli yang penyakitnya tidak separah mereka yang dibangsal. Orang-orang yang datang ke poli ini biasanya masih bisa dirawat jalan saja.  Saya mengingat mereka yang datang ke poli  ini mengalami gangguan tidur, gangguan cemas, gangguan paranoid dan beberapa anak kecil yang mengalami retardasi mental. Pasien dengan gangguan tidur adalah mereka  yang tidk bisa tidur sama sekali atau mengalami kesulitan untuk memulai tidur dan mempertahankan tidurnya. Lalu pasien-pasien dengan gangguan cemas  misalnya pasien yang takut dengan keramaian kemudian tidak berani  keluar rumah  sama sekali. Pasien lain yang saya ingat adalah pasien-pasien depresi yang berwajah sedih dan bahkan sama sekali tidak mau berbicara. Kemudian ada pasien dengan gangguan Obsessive Compulsive Disorder dimana ia sering cemas dan melakukan sesuatu secara berulang misalnya mengecek pintu rumah berulang, mandi berulang dan lain sebagainya.
 Beberapa anak kecil juga datang ke poli dengan gangguan retardasi mental dimana anak-anak ini mengalami keterlambatan dalam bicara, motorik dan sosial. Ada juga anak-anak autisme yang bahkan tidak dapat mengadakan kontak mata dengan kita. Ada juga anak-anak hiperaktif yang selalu bergerak ke sana kemari. Namun, di poli ini saya lebih sedikit melihat mereka dibandingkan di RSMH. Yang selalu disayangkan biasanya anak-anak ini adalah anak laki-laki dan mereka biasanya kebanyakan anak-anak yang tampan.
Berbeda dengan pasien-pasien yang saya temui di IGD (Istalasi Gawat Darurat). Mereka biasanya dibawa tengah malam oleh keluarga  mereka dengan keluhan mengganggu keluarga dan mengganggu ketertiban masyarakat. Mereka yang dibawa tengah malam ini kebanyakan didiagnosis Skizofrenia. Pasien Skizofrenia ini mengalami gangguan berfikir misalnya kita ajak bicara tapi jawabannya tidak nyambung. Pasien ini biasanya senang menyendiri, malamun dan tertawa sendiri. Kebanyakan pasien ini mengalami halusinasi dan waham. Halusininasi adalah persepsi yang salah terhadap stimulus eksternal yang tidak nyata contohnya pasien melihat atau mendengar sesuatu dimana orang sehat tidak dapat melihat atau mendengar hal tersebut. Sedangkan, waham adalah keyakinan aneh yang tidak dapat disangkal sama sekali misalnya pasien yakin sekali kalau ada orang-orang yang mengejar-ngejar dan akan membunuhnya padahal hal tersebut tidak ada sama sekali. Pasien-pasien yang masuk IGD ini biasanya terindikasi untuk dirawat di bangsal.
Apa lagi yah, mungkin itulah sedikit dari mereka-mereka yang saya temui di stase jiwa. Nanti, saya ingin menyambung lagi dengan tulisan saya yang lain tentang stase jiwa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar