Tulisan ini
melanjutkan lagi tulisan tentang stase jiwa yang telah aku lalui.
Ketika kita melihat
orang yang menderita, maka pada saat itu rasa syukur yang akan selalu bernaung
di dalam hati. Inilah yang terjadi apabila kita melihat orang sakit. Kita akan
merasa bahwa keadaan kita setidak enak apapun itu akan jauh lebih baik dibandingkan
apa yang mereka alami.
Suatu saat di stase
jiwa, saya mengetahui seorang pasien bernama DA yang dirawat di bangsal
RSJ karena mengalami Skizofrenia. DA ini
masuk rumah sakit setelah sebelumnya dia berobat ke poli. Pada saat itu saya
juga sedang bertugas di poli. Pada saat itu keadaan DA sangat kacau. Dia
tertawa sendiri dan bertingkah seakan-akan melihat ada orang di depannya dan
orang yang ia lihat ini tidak bisa saya lihat. DA sama sekali tidak nyambung
ketika diajak berbicara, apa yang ditanya apa yang ia jawab. Pandangan matanya
menakutkan. Akhirnya psikater memutuskan DA untuk di rawat bangsal.
Alhamdulillah, ketika besok-besoknya saya berugas di bangsal untuk follow up,
saya melihat lagi keadaan DA yang sudah
mengalami perubahan. Pada saat itu DA tidak lagi terlihat kacau dan mampu
bercakap-cakap serta dapat menjawab pertanyaan saya dengan logis dan benar.
Yah, fase psikotiknya berakhir karena sudah mendapatkan perawatan dan
obat-obatan.
Namun, saya tidak
pernah tahu kalau DA ini ternyata menderita hal lain. Saya fikir selain
gangguan jiwa yang dideritanya, DA sehat fisik seperti pasien jiwa lain pada
umumnya. Ternyata DA in memakai protesa pada salah satu kakinya. Ya, satu
kakinya telah diamputasi. Saya mengetahuinya ketika saya berkunjung ke salah
satu bangsal pada suatu hari yang lain dan melihatnya memakai protesanya dengan
suatu cara tertentu agar alat bantu itu dapat melekat kuat dan nyaman ketika
diajak berjalan-jalan. Setelah selesai
memakai alat bantunya itu, ia bangkit berdiri dengan bersangga dan tersenyum
pada saya yang sedari tadi mengamatinya. Hati saya terenyuh yang sulit saya
gambarkan dengan kata-kata. Alhasil, hari itu saya yang sedang bad mood menjadi
semangat sekali. Betapa tidak bersyukurnya saya terhadap kehidupan ini jika saya malas-malasa dan tidak bersemangat.
Ada lagi pasien lain
yang berkesan untuk saya yakni pasien yang sayat temui di poli yang berinisial
RZ. Pasien ini adalah favorit Koas sebenarnya pasien favorit saya. Yang pertama kali mewancarai pasien ini di poli adalah
saya. RZ labil sekali. Suatu ketika RZ
bercerita dengan semangat sekali menceritakan identitasnya . Ketika saya mulai
menanyakan apa keluhannya , RZ tiba-tiba menangis sambil menunduk yang membuat
saya bingung. Tiba-tiba RZ marah dan memaki-maki serta menggebrak meja setelah
itu mengepalkan tangannya di hadapan saya. Tentu saja, saya terkejut dan
ketakutan. Namun, saya sembunyikan dan saya berpura-pura tetap tenang.
"Kakak sabar, tenang yah, setelah ni kita
ke psikiaternya yah."
"Yah Dok, maaf, maaf, maaf, dok Saya
ingin sembuh dok, tlong saya Dok," Rizal pun mengiba-iba kepada saya.
Tidak sampai di situ
saja keanehan yang ditampakkan oleh RZ. Ketika RZ diwawancarai oleh psikiater,
RZ bertingkah yang aneh-aneh (tentu karena gangguan jiwanya). RZ bergerak-gerak
tidak karuan yang menurut kami lucu sekali. RZ bergerak-gerak seakan-akan sedag
jogging, sedang menari, sedang dugem, sednag menyetir dan hal lainnya. RZ tidak
berhenti bicara sedikitpun dan ada saja yang ia komentari dan RZ tidak merasa
lelah sedikitpun. Karena tingkah dan prilakunya yang aneh dan lucu-lucu, kami
pun jadi tertawa yang tidak dapat ditahan sampai sakit perut. Karena fase
psikotiknya yang dialaminya ini, akhirnya RZ dirawat di bangsal.
Sorenya, ketika saya
yang kebetulan sedang jaga ingin sekali melihat keadaannya. Saya melihatnya
dari kejauhan. Alhamdulillah, RZ dalam
keadaan yang normal dan tidak dalam keadaanpsikotik lagi walaupun masih dalam keadaan
bingung. Pagi besoknya saya yang
kebetulan bertugas di bangsal dan kebetulan bertemu dengan RZ menyapanya dan
bertanya apa kabarnya. Namun, tampaknya RZ tidak mengenali walaupun begitu
senangnya RZ dalam keadaan tenang dan tidak bertingkahl labil seperti kemarin
lagi.
Ada lagi beberapa
pasien di Poli yang penyakitnya tidak separah mereka yang dibangsal.
Orang-orang yang datang ke poli ini biasanya masih bisa dirawat jalan
saja. Saya mengingat mereka yang datang
ke poli ini mengalami gangguan tidur,
gangguan cemas, gangguan paranoid dan beberapa anak kecil yang mengalami
retardasi mental. Pasien dengan gangguan tidur adalah mereka yang tidk bisa tidur sama sekali atau
mengalami kesulitan untuk memulai tidur dan mempertahankan tidurnya. Lalu
pasien-pasien dengan gangguan cemas
misalnya pasien yang takut dengan keramaian kemudian tidak berani keluar rumah
sama sekali. Pasien lain yang saya ingat adalah pasien-pasien depresi
yang berwajah sedih dan bahkan sama sekali tidak mau berbicara. Kemudian ada
pasien dengan gangguan Obsessive Compulsive Disorder dimana ia sering cemas dan
melakukan sesuatu secara berulang misalnya mengecek pintu rumah berulang, mandi
berulang dan lain sebagainya.
Beberapa anak kecil
juga datang ke poli dengan gangguan retardasi mental dimana anak-anak ini
mengalami keterlambatan dalam bicara, motorik dan sosial. Ada juga anak-anak
autisme yang bahkan tidak dapat mengadakan kontak mata dengan kita. Ada juga
anak-anak hiperaktif yang selalu bergerak ke sana kemari. Namun, di poli ini
saya lebih sedikit melihat mereka dibandingkan di RSMH. Yang selalu disayangkan
biasanya anak-anak ini adalah anak laki-laki dan mereka biasanya kebanyakan
anak-anak yang tampan.
Berbeda dengan
pasien-pasien yang saya temui di IGD (Istalasi Gawat Darurat). Mereka biasanya
dibawa tengah malam oleh keluarga mereka
dengan keluhan mengganggu keluarga dan mengganggu ketertiban masyarakat. Mereka
yang dibawa tengah malam ini kebanyakan didiagnosis Skizofrenia. Pasien
Skizofrenia ini mengalami gangguan berfikir misalnya kita ajak bicara tapi
jawabannya tidak nyambung. Pasien ini biasanya senang menyendiri, malamun dan
tertawa sendiri. Kebanyakan pasien ini mengalami halusinasi dan waham.
Halusininasi adalah persepsi yang salah terhadap stimulus eksternal yang tidak
nyata contohnya pasien melihat atau mendengar sesuatu dimana orang sehat tidak
dapat melihat atau mendengar hal tersebut. Sedangkan, waham adalah keyakinan
aneh yang tidak dapat disangkal sama sekali misalnya pasien yakin sekali kalau
ada orang-orang yang mengejar-ngejar dan akan membunuhnya padahal hal tersebut
tidak ada sama sekali. Pasien-pasien yang masuk IGD ini biasanya terindikasi
untuk dirawat di bangsal.
Apa lagi yah,
mungkin itulah sedikit dari mereka-mereka yang saya temui di stase jiwa. Nanti,
saya ingin menyambung lagi dengan tulisan saya yang lain tentang stase jiwa
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar