Kamis, 05 Desember 2013

FAITH


Rasanya adalah seperti engkau mengetahui tentang cahaya terang yang ada di depan namun yang kau hadapi adalah kegelapan yang tak berkesudahan. Beginilah perasaan menunggu itu. Perasaan cemas, takut dan penuh harap. Perasaan yakin namun sebenarnya ragu tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tentang takdir yang sudah tertulis dengan jelasnya bahkan sebelum aku diciptakan.
 
Allah yang menentukan sedangkan manusia hanya bisa berusaha dan pada akhirnya, siapapun anda entah kaya atau miskin, entah tua tau muda entah beriman atau kafir semuanya tetap akan berlutut pada takdir yang ditentukan.
 
Firaun membunuh seluruh anak laki laki yang lahir pada masanya karena takut dengan ramalan tentang seorang anak laki- laki yang lahir yang akan menghancurkan kekuasaanya. Namun pada akhirnya, anak laki-laki yakni nabi Musa AS yang suatu saat akan menghancurkannya pun dia pelihara sebagaimana anaknya di rumah nya sendiri. Firaun tidak dapat menolak takdir.
Maryam adalah wanita suci yang menjaga kehormatan dirinya yang demi Allah tidak ada seorangpun laki laki yang pernah menyentuhnya namun pada akhrinya Allah berkehendak untuk menitipkan seorang janin laki-laki pada rahimnya. Maryam tidak dapat menolak takdir.
Entah apapun yang akan terjadi di masa yang akan datang, ketakutan itu sebenarnya adalah tentang menerima kenyataan tentang takdir yang akan terjadi. Menerima ketentuan yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tugas kita adalah menerima dan mempersiapkan diri karena Allahlah yang tahu apa yang terbaik untuk hambanya sedang manusia hanya menilai dengan pengetahuannya sendiri sedang pengetahuan Allah Maha Luas meliputi segala sesuatu. Karena manusia hanya melihat dengan matanya sedang Allah Maha Melihat yang tampak dan yang tak tampak. Karena manusia hanya mendengar dengan telinganya sedang Allah Maha Mendengar yang kita nyatakan maupun yang tersembunyi di alam hati.
 
Apapun yang akan terjadi seharusnya kita ridho karena bahkan arti dari muslim itu sendiri adalah berserah diri.
Manusia berusaha sebaik mungkin mempersiapkan diri
Mepersiapkan ilmu dan kelapangan serta kebaikan yang luas seandainya di dilebihkan dari manusia manusia yang lain
Mempersiapkan kesiapan yang baik bila ditimpa musibah
Menyiapkan kesabaran yang luar biasa apabila ditimpa perasaan kehilangan  atau hati bersedih
Namun Allah pasti akan menyiapkan hal-hal yang sesuai dengan keadaan hamba-hambanya.
Semua itu adalah tentang menerima dan berusaha untuk dapat menerima. Bahkan menerima seseorang yanga akan datang nantinya yang akan membuat perbedaan hidup. Menerima segala kelebihan hingga dapat bersanding dengan kelebihannya, menerima segala kekurangan hingga dapat memaafkan dan memaklumi. Menerima apa adanya terkecuali pada batas-batas yang telah benar diperintahkan dan jelas dilarang berdasarkan Alquran. Selebihnya kita adalah manusia biasa. Siapalah kita untuk merasa lebih baik dan siapalah orang lain sehingga kita merasa tidak pantas.
Sebegitu tak menentunya perasaan ini tentang siapa, kapan dan dimana namun hanya kepercayaan kepada Allah yang akan membuatnya kokoh karena bukan siapa, kapan dan dimana yang seharusnya dicari namun kebarakahan dalam setiap proses tersebut, penantian, ikhtiar, dan segalanya
Dan bila pada waktunya pertemukan aku dan dia  dalam keadaan diri kami yang terbaik dan dalam kebarakahan yang engkau himpun ya Ilahi ya Rabbi.
Aku mencintainya sebelum aku bertemu dengannya, ketika bertemu, berpisah sementara, dan kuharap bertemu lagi di kehidupan selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar