Rasanya adalah
seperti engkau mengetahui tentang cahaya terang yang ada di depan namun yang
kau hadapi adalah kegelapan yang tak berkesudahan. Beginilah perasaan menunggu
itu. Perasaan cemas, takut dan penuh harap. Perasaan yakin namun sebenarnya
ragu tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tentang takdir
yang sudah tertulis dengan jelasnya bahkan sebelum aku diciptakan.
Allah yang
menentukan sedangkan manusia hanya bisa berusaha dan pada akhirnya, siapapun
anda entah kaya atau miskin, entah tua tau muda entah beriman atau kafir
semuanya tetap akan berlutut pada takdir yang ditentukan.
Firaun membunuh
seluruh anak laki laki yang lahir pada masanya karena takut dengan ramalan
tentang seorang anak laki- laki yang lahir yang akan menghancurkan kekuasaanya.
Namun pada akhirnya, anak laki-laki yakni nabi Musa AS yang suatu saat akan
menghancurkannya pun dia pelihara sebagaimana anaknya di rumah nya sendiri.
Firaun tidak dapat menolak takdir.
Maryam adalah wanita
suci yang menjaga kehormatan dirinya yang demi Allah tidak ada seorangpun laki
laki yang pernah menyentuhnya namun pada akhrinya Allah berkehendak untuk
menitipkan seorang janin laki-laki pada rahimnya. Maryam tidak dapat menolak
takdir.
Entah apapun yang
akan terjadi di masa yang akan datang, ketakutan itu sebenarnya adalah tentang
menerima kenyataan tentang takdir yang akan terjadi. Menerima ketentuan yang
tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tugas kita adalah menerima dan
mempersiapkan diri karena Allahlah yang tahu apa yang terbaik untuk hambanya
sedang manusia hanya menilai dengan pengetahuannya sendiri sedang pengetahuan
Allah Maha Luas meliputi segala sesuatu. Karena manusia hanya melihat dengan
matanya sedang Allah Maha Melihat yang tampak dan yang tak tampak. Karena
manusia hanya mendengar dengan telinganya sedang Allah Maha Mendengar yang kita
nyatakan maupun yang tersembunyi di alam hati.
Apapun yang akan
terjadi seharusnya kita ridho karena bahkan arti dari muslim itu sendiri adalah
berserah diri.
Manusia berusaha
sebaik mungkin mempersiapkan diri
Mepersiapkan ilmu
dan kelapangan serta kebaikan yang luas seandainya di dilebihkan dari manusia
manusia yang lain
Mempersiapkan
kesiapan yang baik bila ditimpa musibah
Menyiapkan kesabaran
yang luar biasa apabila ditimpa perasaan kehilangan atau hati bersedih
Namun Allah pasti
akan menyiapkan hal-hal yang sesuai dengan keadaan hamba-hambanya.
Semua itu adalah
tentang menerima dan berusaha untuk dapat menerima. Bahkan menerima seseorang
yanga akan datang nantinya yang akan membuat perbedaan hidup. Menerima segala
kelebihan hingga dapat bersanding dengan kelebihannya, menerima segala
kekurangan hingga dapat memaafkan dan memaklumi. Menerima apa adanya terkecuali
pada batas-batas yang telah benar diperintahkan dan jelas dilarang berdasarkan
Alquran. Selebihnya kita adalah manusia biasa. Siapalah kita untuk merasa lebih
baik dan siapalah orang lain sehingga kita merasa tidak pantas.
Sebegitu tak
menentunya perasaan ini tentang siapa, kapan dan dimana namun hanya kepercayaan
kepada Allah yang akan membuatnya kokoh karena bukan siapa, kapan dan dimana
yang seharusnya dicari namun kebarakahan dalam setiap proses tersebut,
penantian, ikhtiar, dan segalanya
Dan bila pada
waktunya pertemukan aku dan dia dalam
keadaan diri kami yang terbaik dan dalam kebarakahan yang engkau himpun ya
Ilahi ya Rabbi.
Aku mencintainya
sebelum aku bertemu dengannya, ketika bertemu, berpisah sementara, dan kuharap
bertemu lagi di kehidupan selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar