Sabtu, 30 November 2013

"Seharusnya"


" Seharusnya" adalah kata yang selalu terngiang-ngiang di telingaku hampir setiap waktu. Kadang, aku tahu bahwa seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan absolut karena itu adalah haknya para Nabi, Rasul dan orang-orang yang terpilih. Namun, apakah kita tidak dapat mencapai kesempurnaan yang kita targetkan untuk diri kita sendiri atau kesempurnaan yang memang diminta oleh pemiliki kita sejak lama namun kita jarang untuk menyadarinya.
Selayaknya seorang manusia, maka tidak mungkin bila tidak mempunyai angan-angan besar apalagi untuk tipe-tipe orang pencari prestasi, tipe-tipe orang pekerja keras, tipe-tipe orang yang selalu ingin dipuncak. Namun, aku merasa bahwa kehidupan sepeti itu seperti kehidupan yang tak memiliki inti dan arti karena setelah mendapatkan sesuatu yang kita inginkan maka rasanya hanya kepuasaan sesaat dan seperti orang yang kehausan maka akan timbul angan-angan kembali. Tak pernah berkesudahan dan tak kan pernah ada habisnya.
 Kadang, aku berfikir bahwa angan-angan dunia tanpa misi yang jelas di baliknya akan membawa kita jauh dari tujuan penciptaan karena kita kesulitan untuk menghubungkan cita-cita kita dengan cita-cita hakiki yakni akhirat. Misalnya, belajar mati-matian, ingin dapat IPK tinggi untuk dipuji orang lain atau kepuasaan pribadi. Lalu, setelah mendapatkannya, apa rasanya, bahagia, setelah itu apa, hilang seperti ditelan angin dan timbul angan-angan baru kembali. Apakah angan-angan seperti itu salah? Aku tidak tahu pasti jawabannya. Karena ketika seseorang mati-matian mengejar apa yang dia inginkan di dunia, manusia lupa untuk menghubungkannya dengan tujuan di akhirat dan lupa untuk mengkoneksikannya dengan dasar dari seluruh kegiatan muslim yakni keihklasan yang bermakna megerjakan sesuatu hanya untuk Allah semata.
 Kadang aku berfikir bahwa dari 24 jam kehidupan kita, apakah seluruhnya sudah bernilai ibadah atau sia-sia dan merugi belaka. Yah, apa yang akan terjadi esok hari itu tidak pasti, namun, hari perhitungan, akhirat surga dan neraka itu pasti. Kadang aku berfikir, mengapa harus mengerjakan banyak hal yang susah-susah kalau tidak ada niai dan balasannya di hari akhir nanti.
 
Lalu bagaimana, bagaimana seharusnya..
Yah, disinilah letak kata seharusnya… sebuah teori yang akhirnya aku pahami, walau aku dengan mudah untuk mengatakannya namun sulit untuk melaksanakannya..
Bagi orang-orang yang menginginkan tempat tertinggi di surga sebagai angan-angan tertingginya dan berusaha mati-matian ke arahnya maka  setidaknya sudah harus tau apa saja teori-teori "seharusnya" dan memaksakan diri untuk mengerjakannya,
 Aku ingin bercerita tentang 2 orang yang sama-sama pintar, sama-sama kaya, sama-sama bersedekah, sama-sama menolong orang lain namun yang satu mendapatkan balasan lebih baik dibanding yang lain ketika di akhirat atau yang satu mendapat surga dan yang satu mendapat neraka.
Tentulah yang mendapat kedudukan yang lebih buruk ini protes karena yang dilakukannya sama saja dengan temannya yang mendapat kedudukan lebih tinggi. Akhirnya, terkesiaplah bahwa temannya itu melakukan amalan lain yakni amalan hati tentang niat yang ia punya untuk melakukan segala aktifitasnya. Niat hanya untuk Allah semata tiada yang lain. Bahwa, apapun yang ia kerjakan di setiap sendi kehidupannya hanyalah dilakukannya untuk Allah. Lalu, orang ini tersadar bahwa memang apa-apa yang dilakukannya di dunia hanyalah untuk mendapatkan pujian dari manusia dan untuk kepuasaan pribadinya sendiri. Wallahualam bissawab
 Yah, mungin ini adalah hal yang sangat sulit yakni tentang keikhlasan. Apakah sudah seluruh kegiatan kita berlandaskan untuk Allah semata, berlandaskan rasa syukur kita untuk menghargai setiap keberuntungan dan kelebihan yang telah ia berikan. Sangat sulit untuk melakukannya. Namun, kita dapat memaksakannya. Bukankan ini adalah "seharusnya".
 Bukankah kita ingin mendapat kedudukan tinggi di hari akhir nanti..
Wallauhualam bisawab

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar