"
Seharusnya" adalah kata yang selalu terngiang-ngiang di telingaku hampir
setiap waktu. Kadang, aku tahu bahwa seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan
absolut karena itu adalah haknya para Nabi, Rasul dan orang-orang yang
terpilih. Namun, apakah kita tidak dapat mencapai kesempurnaan yang kita
targetkan untuk diri kita sendiri atau kesempurnaan yang memang diminta oleh
pemiliki kita sejak lama namun kita jarang untuk menyadarinya.
Selayaknya seorang
manusia, maka tidak mungkin bila tidak mempunyai angan-angan besar apalagi
untuk tipe-tipe orang pencari prestasi, tipe-tipe orang pekerja keras,
tipe-tipe orang yang selalu ingin dipuncak. Namun, aku merasa bahwa kehidupan
sepeti itu seperti kehidupan yang tak memiliki inti dan arti karena setelah
mendapatkan sesuatu yang kita inginkan maka rasanya hanya kepuasaan sesaat dan
seperti orang yang kehausan maka akan timbul angan-angan kembali. Tak pernah
berkesudahan dan tak kan pernah ada habisnya.
Kadang, aku berfikir
bahwa angan-angan dunia tanpa misi yang jelas di baliknya akan membawa kita
jauh dari tujuan penciptaan karena kita kesulitan untuk menghubungkan cita-cita
kita dengan cita-cita hakiki yakni akhirat. Misalnya, belajar mati-matian, ingin
dapat IPK tinggi untuk dipuji orang lain atau kepuasaan pribadi. Lalu, setelah
mendapatkannya, apa rasanya, bahagia, setelah itu apa, hilang seperti ditelan
angin dan timbul angan-angan baru kembali. Apakah angan-angan seperti itu
salah? Aku tidak tahu pasti jawabannya. Karena ketika seseorang mati-matian
mengejar apa yang dia inginkan di dunia, manusia lupa untuk menghubungkannya
dengan tujuan di akhirat dan lupa untuk mengkoneksikannya dengan dasar dari
seluruh kegiatan muslim yakni keihklasan yang bermakna megerjakan sesuatu hanya
untuk Allah semata.
Kadang aku berfikir
bahwa dari 24 jam kehidupan kita, apakah seluruhnya sudah bernilai ibadah atau
sia-sia dan merugi belaka. Yah, apa yang akan terjadi esok hari itu tidak
pasti, namun, hari perhitungan, akhirat surga dan neraka itu pasti. Kadang aku
berfikir, mengapa harus mengerjakan banyak hal yang susah-susah kalau tidak ada
niai dan balasannya di hari akhir nanti.
Lalu bagaimana,
bagaimana seharusnya..
Yah, disinilah letak
kata seharusnya… sebuah teori yang akhirnya aku pahami, walau aku dengan mudah
untuk mengatakannya namun sulit untuk melaksanakannya..
Bagi orang-orang
yang menginginkan tempat tertinggi di surga sebagai angan-angan tertingginya
dan berusaha mati-matian ke arahnya maka
setidaknya sudah harus tau apa saja teori-teori "seharusnya"
dan memaksakan diri untuk mengerjakannya,
Aku ingin bercerita
tentang 2 orang yang sama-sama pintar, sama-sama kaya, sama-sama bersedekah,
sama-sama menolong orang lain namun yang satu mendapatkan balasan lebih baik
dibanding yang lain ketika di akhirat atau yang satu mendapat surga dan yang
satu mendapat neraka.
Tentulah yang
mendapat kedudukan yang lebih buruk ini protes karena yang dilakukannya sama
saja dengan temannya yang mendapat kedudukan lebih tinggi. Akhirnya,
terkesiaplah bahwa temannya itu melakukan amalan lain yakni amalan hati tentang
niat yang ia punya untuk melakukan segala aktifitasnya. Niat hanya untuk Allah
semata tiada yang lain. Bahwa, apapun yang ia kerjakan di setiap sendi
kehidupannya hanyalah dilakukannya untuk Allah. Lalu, orang ini tersadar bahwa
memang apa-apa yang dilakukannya di dunia hanyalah untuk mendapatkan pujian
dari manusia dan untuk kepuasaan pribadinya sendiri. Wallahualam bissawab
Yah, mungin ini
adalah hal yang sangat sulit yakni tentang keikhlasan. Apakah sudah seluruh
kegiatan kita berlandaskan untuk Allah semata, berlandaskan rasa syukur kita
untuk menghargai setiap keberuntungan dan kelebihan yang telah ia berikan.
Sangat sulit untuk melakukannya. Namun, kita dapat memaksakannya. Bukankan ini
adalah "seharusnya".
Bukankah kita ingin
mendapat kedudukan tinggi di hari akhir nanti..
Wallauhualam bisawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar