Aku disini jauh dari keramaian. Jauh dari hiruk-pikuk kota. Satu persatu air besar-besar menetes. Terdengar suaranya di sela-sela mesin ketikku. Suara menggelegar seperti simfoni yang menambah sendu malam yang mulai beranjak pekat.
Ada rasa nyeri setiap teringat. Nyeri yang benar-benar nyeri di jantung letaknya. Tentu bukan karena Angina, bukan karena Infark Miokard atau Gastritis. Nyeri setiap teringat.... Nyeri teringat pada setiap kesempatan yang telah terlewatkan yang aku takut akan menguak dan menghilang bagai angin.
Tapi bagiku.. aku selalu akan netral. Walaupun bagaimanapun. Aku selalu akan mengingat kenangan-kenangan manis. Senyum senyum yang lebar. Mata-mata yang menyipit. Gelak tawa tanpa batas. Bicara tanpa praduga. Hhh.. aku saja yang sulit untuk memaafkan. Walau di ucapan bisa. Tapi aku sulit-sulit untuk sembuh. Aku sudah mencoba berbagai cara. Berbagai cara. Tapi ternyata memang akan sama hasilnya. Semua tidak akan sama lagi.
Kalau seandainya manusia bisa menyelam ke dalam hati orang lain. Tentu akan terkejut melihat sebesar- besarnya rasa sayang, sebesar-besarnya ketakutan, sebesar-besarnya kesakitan, sebesar-besarnya pengorbanan, sebesar-besarnya perasaan yang tak tertampakkan.
Kalau nyeri seperti angina itu muncul lagi, aku akan menghirup nafas dalam, aku tak butuh nitrogliserin, juga tak butuh untuk duduk beristirahat. Kan kukepal tanganku dan berlari lebih kencang lagi. Bila telah banyak air bulat-bulat menyusuri pipi. Kubiarkan sedikit saja membasahi tanah, membasahi jilbab tapi sisanya akan kucicip rasa asin dan dinginnya.
Aku telah menyerah untuk berusaha. Cukup. Cukup. Anda tidak pernah mengerti dan tidak juga mencoba memahami.
Aku berharap semuanya cukup tidak ada kurang ketika aku ditanya di Yaumil akhir nanti tentang bagaimana memperlakukan sahabat yang tertakdir bersama sebentar.
Aku pun berharap, nyeri ini cepat hilang..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar