Rabu, 17 Agustus 2011

MAYA


Setiap orang menanggung beban dan kekhawatiran. Ya pastilah. Kadang beban itu sedemikian nyata seperti sakit yang panjang dan kemiskinan. Atau beban itu adalah kesakitan di dalam hati yang panjang dan kesendirian. Atau beban itu yang sengaja ngaja dibuatnya beban. Dan kadang beban itu berupa kegalauan ketika ia sadar bahwa beberapa pintu dunia telah terbuka untuknya. Kakinya lemas terkulai melihat pemandangan di depannya, hatinya hancur remuk redam karena belum mampu menerimanya, fikirannya kosong karena belum ada ilmu harus dengan apa ia berbuat. Ia ingin berteriak tapi lidahnya kelu dan pita suaranya tidak bergetar. Ia ingin dipapah tapi hanya ia sendirian tidak ada yang lain.
Pemandangan itu adalah kenyataan terhadap mimpi-mimpi dan harapan yang semulanya ia bayangkan sebelum sampai ke pintu itu. Sepanjang perjalanan telah banyak duri yang menusuk kakinya tapi tak ia rasakan, sepanjang perjalanan telah banyak orang yang memperingatinya tapi tak ia hiraukan dan sebeginilah jadinya.
Ia membuka pintu itu dengan kunci yakni kunci kesuksesan untuk menemukan ruang kebahagiaan. Tapi setelah terbuka, tidak, tidak ini begitu mengerikan, bukan ini pintunya, aku salah jalan, aku salah kunci aku salah tujuan, aku harus bagaimana. Ia menangis, Ia kebingungan darimana ia harus memulai lagi ia telah kehabisan bekal. Sebenarnya ia tak perlu menangis karena ia sudah teorinya
Pintu kebahagiaan adalah Allah dan ridhonya menujunya memakai jalan yang dengan peta Alquran. Bekalnya adalah keikhlasan, sebuah niat yang besar, awal dari segala awal, yakni Allah dan ridhonya. Keikhlasan, itulah yang kurang. Tapi mencapai derajat itu sangat susah. Mungkin mereka adalah orang-orang yang Allah sembunyikan seperti mutiara di dasar samudra, tak terlihat kilaunya, makin mendekat baru kita tahu itu adalah mutiara. Tak kan terdengar, tak kan ketahuan, bahkan seekor semutpun akan menjadi malu kalau bertemu seseorang yang mukhlis. Apapun yang dikerjakannya ia niatkan karena Allah bukan pujian manusia bukan penilaian manusia, bukan hobi, karena Allah. Orang mukhlis lebih suka pekerjaan yang tidak diketahui yang lain dan menyembunyikannya agar terjaga keikhlasan itu.
Dulu ia berfikir bahwa itu mudah tapi ternyata setelah umurnya bertambah, setelah banyak fikiran yang berseliweran ternyata derajat itu sangatlah berat sangatlah sulit untuk melaluinya.Atau karena ia menyadari apa yang ia lakukan salah sehingga berat baginya untuk meninggalkan
Ini hanyalah masalah waktu, ia bisa bangkit kembali menutup pintu yang salah itu, kembali pulang dan memulai jalan yang baru, yang sebenar benarnya jalan ketika pertama ia berniat menginjakkan kaki di sini. Tapi semoga waktu itu tidak terburu habis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar