Sungailiat, 22 September 1991. Kata-kata ini sering saya tuliskan hampir ribuan kali di formulir-formulir, biodata dan segala macem. Dan semisal ada pendaftaran, contohnya bikin KTP, bikin kartu ini bikin kartu itu, so pasti petugasnya akan tercengang sebentar, menoleh kepadaku dan berkata “91 ya dek, nggak nyangka ya?” Mulanya agak tersinggung sih, tapi sudah terbiasa. Dari SMA, bahkan sudah dikira 10 tahun lebih tua, waw. Okeh, tidak akan berbicara tentang 91, tapi tentang Sungailiat.
Jarang didengar, tidak terkenal, orang-orang padah nggk tau, itu adalah kesan pertama tentang Sungailiat. Jadi, Sungailiat itu adalah ibukotanya Kabupaten Bangka, jadi setingkat kecamatanlah. Sungailiat adalah kota yang terindah yang pernah ada walaupun saya belum menjejak ke kota lain tapi tetap Sungailiat adalah kota yang terindah.
Pusat pemerintahan Sungailiat berada sekitar 7 km dari pantai timur pulau Bangka. Hal ini menyebabkan, kota ini dipagari oleh benteng pantai di sebelah timurnya sehingga rakyatnya sangat akrab dengan wisata pantai. Pada bagian barat kota Sungailiat tapi terkhusus untuk area Pemda (pusat pemerintahannya) dihiasi barisan bukit hijau nan indah. Dari dulu saya ngefans dengan bukit ini dan berharap bisa membangun rumah di tanah yang dapat langsung melihat bukit ini tanpa dihalangi apapun.
Kebetulan rumah saya dekat dengan pusat pemerintahannya yakni sepanjang jalan A. Yani. Di situ anda dapat melihat deretan perkantoran lengkap ada kantor bupati, kantor DPRD, dinas Pendidikan, dan semuanya. Jalan A Yani ini panjangnya kira-kira 2,5 km terbagi menjadi 2 jalur yang ditengahnya ada pembatas yang dibuat menyerupai taman. Pohon-pohom masih asri tegak menjulang, aspalnya licin, bersih dan gotnya insya Allah bersih. Dari A. Yani, belok ke kanan, akan ada deretan sekolah top kota kecil ini yakni SMPN 2 Sungailiat dan SMAN 1 Sungailiat. Hoho, jangan kira sekolah ini macam sekolah bergengsi Palembang. Tidak akan sebanding untuk fasilitas tapi mudah-mudahan semangat pelajarnya melambung menembus langit untuk mengejar ilmu meninggalkan segala kekurangan yang ada. Amin
Jalan ini bernama jalan Pemuda dan saya tinggal di salah satu gangnya. 2 jalan ini adalah jalan yang sering dikunjungi orang pagi-pagi dan sore hari. Pada pagi hari, rakyat Sungailiat banyak jalan pagi dan olahraga dan sayapun begitu kalau liburan. Asri dan nyaman serupa Kambang Iwak kalau di kota Palembang. Sementara kalau sore, jalan ini dipenuhi pemuda yang mejeng dengan motor. Sampai saat ini saya heran, kenapa tradisi ini tidak berhenti dari saya kecil sampai saya besar. Mungkin, orang yang mejeng itu berganti dari tahun ke tahun dan biasanya mereka adalah anak-anak nakal yang gaul abizzz gela getoh
Kalau pulang ketika libur, satu hal yang menjadi tradisi adalah “Go to the beach”. Apapun pestanya tempatnya pasti di pantai. Lulus SD, lulus SMP, lulus SMA, acara resmi tidak resmi, reunian, always di pantai. Yah jelaslah, coz hanya itu satu-satunya tempat wisata (ada yang lain kok banyak)
Tapi acaranya itu tergantung oranglah, kalau pejabat yang elit pasti pilih pantai yang mahal dan acaranya di hotel. Kalau kami, hehe, memilih pantai yang paling sepi yang jaranggg dikunjungi orang yang hanya kami yang tahu jalan masuknya. Pantai yang paling saya favoritkan adalah pantai (belum ada namanya) karena tidak banyak orang yang tahu pantai itu. Saya sarankan untuk berkunjung ke pantai Sungailiat itu sekitar pertengahan tahun, Juli atau Agustus. Saya tidak tahu mengapa, tapi menurut pengalaman saya, pantai paling indah dan paling tenang airnya adalah pada bulan-bulan segitu. Hehe dan jangan coba-coba mau berenang di pantai bulan Desember atau Januari karena bisa-bisa lenyap ditelan gelombang tanpa bekas. Serem.
Susunan acara pergi ke pantai yang pertama adalah ribut dan lama menentukan pantai mana yang akan dikunjungi, kemudian ketika sampai tentunya memakirkan motor. Hehe, lalu foto-foto, main air, menghirup udara pantai dan menikmati, Subhanallah pemandangan indah yang selalu terbayang. Air biru, langit biru dengan ombak buih, semilir angin berbukitan kecil asri, emmm kangen pulang.
Setelah itu baru ribut-ribut membentangkan tikar, meletakkan piring-piring, bakul nasi, tas-tas dan yang paling penting adalah persiapan memanggang ikan. Kalau pergi ke pantai tanpa manggang ikan, nggak kan lengkap, so harus manggang ikan. Ikan yang sering dipanggang namanya ikan Singkur, kalau di Palembang saya nggak tau namanya apa. Ikannya warna abu-abu, panjang dan gendut. Ikan ini tidak pernah saya temui di pasar Semai, dimana saya sering belanja di Palembang. Gampang membuatnya, ikannya dibersihkan dan tinggal dipanggang. DIkipas-kipas hingga mateng. Manggang ikan itu cukup lama. Kalau ada 20 buah sekitar 2 jamanlah. Jadi yang bertugas memanggang ikan itu adalah orang-orang yang berbakat alias orang yang rajin. Hoho dan saya tidak pernah memanggang karena saya tidak tahu caranya. Setelah selesai, ketika matahari sudah naik dan perut keroncongan akhirnya kita makan-makan deh. Emm enakkkk. Suasananya ini mengalahkan makan di restoran-restoran atau rumah makan yang terkenal. Bersama sahabat dengan suasana pantai di tengah perut laper. Emm, tak tertandingi
Okeh setelah selesai makan, beres-beres barang dan yang sholat persiapan sholat. Kalau dipantai yang ramai biasanya ada tempat sholat kalau nggk ada tempat sholat ya udah sholat di pasir, wudunya sama air laut, boleh kan.
Abis itu,, maen aer deh. Yang cewek-cewek jarang berenang. Ribetlah pakai jilbab berenang. Biasanya yang cowok-cowok pada berenang atau maen futsal dak jelas. Kangennnn. Tapi pernah ada suatu keadaan dimana laut benar-benar tenang, langit biru nan cerah dan airnya jernih sampai dasarnya kelihatan. Mana ada orang yang tahan nggak mencerbukan diri ke laut. Jadi deh berenang. Tidak tertandingi berenang di kolam renang, tidak ade sensenya. Waktu itu, air sangat bening hingga dasarnya hampir kelihatan, jarang bisa menemukan kondisi seperti ini karena biasanya ombak besar hingga air menjadi keruh.
Setelah puas makan, foto-foto dan berenang. Sebelum ashar sudah selesai acara “Having fun ini” dan back home to rumah masing-masing. Selesai cerita ke pantainya.
***
Menyusuri jalan-jalan Sungailiat adalah kegiatan menyenangkan untuk mengusir penat. Jalan-jalan bersih dan lenggang karena sedikit kendaraan yang lalu lalang. Rumah-rumah tertata rapi yang menyimpan pohon di setiap pekarangannya. Kalau misalnya ingin berbaring di tengah jalan, sepertinya tidak akan nada yang menabrak saking sepinya Sungailiat.
Okeh, mungkin ini adalah cerita pertama untuk kotaku Sungailiat, masih banyak cerita-cerita lainnya, tentang penambangan timah yang meresahkan di kota ini, pelajar-pelajar di Sungailiat, tradisi, budaya dan penduduk, kemudian ghirah perdagangan dan pemerintahan. Kalau cukup waktu luang ingin bercerita banyak tentang Sungailiat
1 bulan setengah lagi liburan, tunggu aku Sungailiat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar