Selasa, 28 Januari 2014

Tidak Ingin Menyesal

Ketika aku meminta kepadamu dan Engkau tidak memberikannya kepadaku, apakah aku harus marah dan kecewa, tidak demi Allah tidak. Betapa tidak bersyukur aku engkau berikan kehidupan kepadaku, engkau berikan kesempurnaan pada tubuh, akalku, makanan, rejekiku, kebahagiaanku, sedang satu permintaan kecil saja tak terkabul, sedang satu hal kecil saja yang tak sama dengan orang lain aku harus marah kepadaMu atau aku harus cemburu kepada orang lain.
Untuk seluruh yang telah Engkau berikan kepadaku, aku tak dapat membalas, sedikit pun sedikitpun tidak dapat memberikan balasan, sedang aku tetap dalam kemaksiatan setiap harinya.
Banyak sekali yang telah engkau berikan kepadaku lalu aku merasa tinggi hati karenaya. Padahal hal itu hanya pemberianmu saja. Engkau yang telah memberi kepada setiap yang Engkau hendaki dan mudah saja bagiMu untuk mencabut dan mengambilnya dan aku terlena dengan keberuntungan dan kelebihan itu tanpa memikirkan maksud dari setiap pemberian itu.
Kadang aku memikirkan betapa baik kedua orang tuaku memberikan rasa sayang tanpa batas kepadaku dan mengutamakan diriku. Kadang aku memikirkan betapa baik sahabat-sahabatku yang memberikan perhatian dan kasih sayang kepadaku sedang aku tak pernah memkirkan bahwa kebaikan- kebaikan dan kasih sayang itu berasal dari Engkau yang Engkau alirkan melalui perantara orang tua dan sahabat sahabatku. Bahwa sebernanya Engkaulah Maha Penyayang itu.
Bahkan sekarang aku melewati waktu dengan setiap angan-angan tinggi tanpa batas, untuk setiap mimpi tanpa batas, untuk setiap kekayaan tanpa batas, untuk setiap kebebasan tanpa batas, padahal hari itu akan datang. Hari di mana semuanya akan dipertanggungjawabkan. Aku tak dapat membayangkan dan setiap kali aku membayangkan aku semakin takut dan cemas bagaimana aku dapat berdiri di hadapanmu di hari di mana semua amal akan dipertanggung-jawabkan dengan adil. Dimana seluruh tubuh diminta persaksian untuk setiap apa yang kita lakukan. Aku takut dan rasa takut itu tak sebanding ketika menghadapi penguji yang paling ditakutkan, tidak sebanding dengan ketakutan lain, tidak sebanding dengan rasa malu lain. Aku takut, takut sekali.
Bahwa apa yang engkau berikan kepadaku, apapun itu adalah sebagai wasilah (jalan untuk mendekat kepadamu).
Termasuk pemberian ilmu karena ilmu semakin tinggi semakin besar pertanggung-jawabannya. Untuk apa ilmu itu digunakan , dinafkahkan, diajarkan, diberikan, diamalkan dan juga seberapa besar rasa malu dan takwa serta takut timbul dari ilmu yang diraih.
Terlalu banyak dalam hidup ini yang harus dipetanggungjawabkan dan sia sia saja jika hanya bermain dan merasa bahwa kematian itu masih terlalu lama. Dan seandainya besok kematian itu datang, aku tidak ingin menyesal, tidak ingin menyesal.
 
Palembang, 4 Desember 2013, Rika Maulida

Tidak ada komentar:

Posting Komentar