Ketika aku
meminta kepadamu dan Engkau tidak memberikannya kepadaku, apakah aku harus
marah dan kecewa, tidak demi Allah tidak. Betapa tidak bersyukur aku engkau
berikan kehidupan kepadaku, engkau berikan kesempurnaan pada tubuh, akalku,
makanan, rejekiku, kebahagiaanku, sedang satu permintaan kecil saja tak
terkabul, sedang satu hal kecil saja yang tak sama dengan orang lain aku harus
marah kepadaMu atau aku harus cemburu kepada orang lain.
Untuk seluruh
yang telah Engkau berikan kepadaku, aku tak dapat membalas, sedikit pun
sedikitpun tidak dapat memberikan balasan, sedang aku tetap dalam kemaksiatan
setiap harinya.
Banyak sekali
yang telah engkau berikan kepadaku lalu aku merasa tinggi hati karenaya. Padahal
hal itu hanya pemberianmu saja. Engkau yang telah memberi kepada setiap yang Engkau
hendaki dan mudah saja bagiMu untuk mencabut dan mengambilnya dan aku terlena
dengan keberuntungan dan kelebihan itu tanpa memikirkan maksud dari setiap
pemberian itu.
Kadang aku
memikirkan betapa baik kedua orang tuaku memberikan rasa sayang tanpa batas
kepadaku dan mengutamakan diriku. Kadang aku memikirkan betapa baik
sahabat-sahabatku yang memberikan perhatian dan kasih sayang kepadaku sedang
aku tak pernah memkirkan bahwa kebaikan- kebaikan dan kasih sayang itu berasal
dari Engkau yang Engkau alirkan melalui perantara orang tua dan sahabat
sahabatku. Bahwa sebernanya Engkaulah Maha Penyayang itu.
Bahkan sekarang
aku melewati waktu dengan setiap angan-angan tinggi tanpa batas, untuk setiap
mimpi tanpa batas, untuk setiap kekayaan tanpa batas, untuk setiap kebebasan
tanpa batas, padahal hari itu akan datang. Hari di mana semuanya akan
dipertanggungjawabkan. Aku tak dapat membayangkan dan setiap kali aku
membayangkan aku semakin takut dan cemas bagaimana aku dapat berdiri di
hadapanmu di hari di mana semua amal akan dipertanggung-jawabkan dengan adil. Dimana
seluruh tubuh diminta persaksian untuk setiap apa yang kita lakukan. Aku takut
dan rasa takut itu tak sebanding ketika menghadapi penguji yang paling ditakutkan,
tidak sebanding dengan ketakutan lain, tidak sebanding dengan rasa malu lain.
Aku takut, takut sekali.
Bahwa apa yang
engkau berikan kepadaku, apapun itu adalah sebagai wasilah (jalan untuk
mendekat kepadamu).
Termasuk
pemberian ilmu karena ilmu semakin tinggi semakin besar pertanggung-jawabannya.
Untuk apa ilmu itu digunakan , dinafkahkan, diajarkan, diberikan, diamalkan dan
juga seberapa besar rasa malu dan takwa serta takut timbul dari ilmu yang
diraih.
Terlalu banyak
dalam hidup ini yang harus dipetanggungjawabkan dan sia sia saja jika hanya
bermain dan merasa bahwa kematian itu masih terlalu lama. Dan seandainya besok
kematian itu datang, aku tidak ingin menyesal, tidak ingin menyesal.
Palembang, 4 Desember 2013, Rika Maulida
Tidak ada komentar:
Posting Komentar