Jumat, 20 Mei 2011

Melan....lis


Saya sudah berjanji untuk tidak mengeluh. Karena kata yang satu ini, membuat saya trauma. Tapi izinkanlah saya untuk mengeluh. Mengeluh tentang penatnya kehidupan, tapi seperti orang yang tidak bersyukur. Saya pernah membaca buku kepribadian. Dalam buku itu disebutkan, bahwa ada 4 kriteria orang sanguinis, korelis, melankolis dan pregmatis. Kebanyakan orang adalah tipe dan gabungan dari keempatnya akan tetapi ada orang yang sempurna di salah satu kepribadian. Tidak bermaksud untuk mengotak ngotakkan orang, namun benar adanya bahwa saya melankolis sempurna.

Orang-orang tidak akan bermasalah tentang kelebihan yang dimilik akan tetapi tentang kekurangan,  orang-orang termasuk saya merasa risih, ingin mengubahnya dan membuangnya. Orang-orang melankolis banyak kelebihan ketika mengerjakan sesuatu. Mereka tipe pengonsep, rinci, difikirkan matang, dikerjakan dan ingin hasilnya sempurna. Ingin segala sesuatunya sempurna menurut bayangannnya sendiri. Tapi kadang lelah guys. Hal itu seperti tikus yang bermain roda putar, tidak berhenti-henti atau tupai yang tidak mengalami hibernasi (haha kok sejelek ini ya perumpamaannya). Namun, saya sudah berdamai tentang kekurangan orang melankolis untuk hal ini. Namun sampai sekarang, saya tidak bisa dan belum bisa berdamai tentang salah satu sifat orang melankolis yakni penyendiri. Ya Allah, sekuat apa saya berusaha untuk bisa nyambung dengan orang lain, saya tetap sukar melakukannya. Yang saya fikirkan adalah menarik diri dari pergaulan karena merasa saya bukan orang yang pantas untuk berteman dan bergaul, tidak ada hal yang dapat saya tawarkan dan saya hanya sebagai penganggu saja. Hahaha, tapi ini murni yang ada dalam fikiran saya. Saya takut orang tidak merasa nyaman berbicara dengan saya, karena tidak ada bahan omongan yang saya mengerti, saya tidak tahu lagu terbaru, jujur lagu yang saya hafal benar mungkin hanya Indonesia Raya, saya jarang nonton film, tidak tahu artis korea, twitter saya tidak aktif, dan saya hanya bisa menggunakan blog, dan whatever kalau hanya secarik tulisan yang tidak jelas. Dan hobi yang saya miliki, hanya sedikit orang yang punya dan saya belum menemukan orangnya.

Orang-orang dengan tipe kepribadian melankolis cepat sangat peka dan mudah terbawa emosi saat orang bercerita tentang kesedihan dan itu terjadi pada saya. Orang-orang melankolis cepat tersinggung ketika  merasa tidak dihargai oleh orang-orang di sekitarnya, sering merasa rendah diri ketika merasa dia bukan orang “terpilih”, bukan orang yang dibutuhkan, bukan orang yang disayang padalah faktanya dia sendiri tidak memberikan kesempatan pada orang-orang di sekelilingnya untuk menghargainya.

Merasa bukan siapa-siapa dan bukan orang yang diperdulikan membuat orang ini semakin menarik diri lagi dan semakin aneh dalam bertingkah. Dan kadang yang paling ekstrem, dia berfikir “Saya hidup sendiri, jangan ganggu saya, biarkan saya dengan kreatifitas saya!” Padahal dirinya tersiksa. Ingin sekali tertawa sedemikian lepas sesering mungkin dan di komunitas yang berbeda. Ingin berjalan dengan wajah yang tersenyum dan sebahagia mungkin sehingga orang tidak berfikir aneh-aneh, ingin sekali menunjukkan bahwa saya sayang dengan semua orang tapi tidak dapat menunjukkanya dan tidak terasa dengan orang-orang sekitar. Saya tersiksa. Haha, untung saya bisa menulis. Sehingga rasa dapat terkeluarkan lewat untaian tuts tuts kibord.

Perasaan ini, bukan sehari dua hari, sebulan dua bulan, tapi sudah bertahun sejak saya kecil. Berusaha untuk merubahnya, tapi kenapa tidak bisa. Saya tidak bisa dekat dengan orang lain, itu alami. Dan saya bahkan mendefeniskannya sebagai gangguan kepribadian, karena itulah saya sangat suka buku-buku psikologi karena saya merasa ada gangguan pada kebribadian saya. Pernah seorang teman menyebutkan penyakit kejiwaan (lupa namany apa), saya langsung mendiagnostic bahwa saya menderita penyakit itu, tapi ternyata tidak, saya belum gila ternyata.

Ini bukan tentang tidak bersyukur tapi saya sudah berusaha, semampu saya untuk berubah, dan apabila ada hal-hal yang diluar kemampuan saya untuk melakukannya karena ini murni keluar dari alam bawah sadar saya bahwa saya takut untuk lebih dekat, maka maafkan.

Hanya saja, jangan tinggalkan saya sendiri dan merasa semakin tidak dibutuhkan. Minta bantulah pada saya, saya akan membantu sebisa saya. Apabila tidak enak, yakinlah itu karena sifat saya secara alami keluar yakni menjaga jarak dan saya lelah dengan itu semua. Ingin lebih dekat, ingin berubah sebisa saya. Jika ingin minta tolong, jangan segan-segan. Pergunakan saya, sahingga saya merasa dibutuhkan dan dapat memberikan penghargaan kepada diri saya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar