Tidak pernah aku mengerti kenapa aku dikumpulkan dengan mereka. Orang yang luar biasa hebatnya. Yah mungkin jika dilihat dari luar memang hebat, tapi ini penilaianku yang sangat dekat dengan mereka. Sungguh sangat tidak bersyukur diriku, jika harus membenci orang orang yang sujudnya lama, yang menjaga sholat mereka, yang menjaga puasa mereka, yang menjaga hati mereka. Yang menjaga sikap mereka, yang menjaga perasaanku, yang sangat perhatian pada diriku. Sungguh sangat tidak masuk akal dan sangat tidak bersyukur. Kadang malu untuk disejajarkan dengan mereka. Aku tidak ada apa-apanya. Haha, buka orang yang sibuk dan penting, bukan orang yang penuh semangat, bukan orang yang pandai berbicara, hahaha.
Saya jarang memuji orang, entahlah itu kebiasaan yang buruk atau baik. Tapi kali saya ingin berkata “Saya iri pada kalian”. Dan jangan marah ini adalah salah satu bentuk pujian. Okeh, iri pada hal-hal yang duniawi, haruslah. Tapi sepertinya di langit dan di bumi aku tidak bisa sejajar dengan kalian. “Sometimes, it can’nt make me breathing”.
Aku tahu teman dan aku malu. Pintu-pintu yang berderak dan gemerincing air di malam malam buta, lalu kerinduan yang sangat yang kurasakan sampai ke kalbu lewat sujud sujud panjang itu. Itu yang kudengar dan kulihat dan itu yang membuatku sulit bernafas ketika menyadari “We are not same”. Aku *R* dengan hal itu. Aku *R* dengan keshalehan kalian. *R* sekali.
Ketika membaca tulisan tulisan keren yang terbit (sudah lama terbit, hanya saja baru membaca), makin saja tersayat-sayat.
Hmm, well. Maaf, untuk sikap yang sudah sering menyakiti.
Akan mencoba berbenah diri. Mungkin akan tertinggal, tapi tidak apa-apa, daripada tidak sama sekali.
Berlebihan aku, jika aku melihat cerita “Para Sahabat” terulang kembali.
Ajarkan aku untuk menjadi ikhlas, ajarkan aku untuk lebih bersyukur, ajarkan aku untuk lebih bahagia.
Aku akan kembali, agak lama mungkin, mereset ulang tujuan, menyiapkan perbekalan, melihat peta, mengatur strategi, memanaskan gigi, melesat maju dan menyamai kalian.
“I need time for thinking”
“Aku menyayangi kalian karena Allah. Ingat bagaimana kita bisa tiba tiba akrab?
Untuk *T* (maafkan aku ), U*I dengan segala perhatianmu, *a**f untuk kerendahhatianmu, **k* maafkan aku, *I** sorry, sorry 1000x, *g** (entahlah sudah berapa banyak salah dari sikapku, sudah berapa banyak cacian yang kukeluarkan), **b* ( I think, u are a great man).
Sekarang, hanya dapat berleha di kamar besar yang berantakan, sedang kalian berjuang. Tapi tenanglah, darahku memang terbuat bergelegak lebih lama, kakiku terbuat untuk lebih banyak melangkah, dan jiwa ini jika pernah padam, maka akan kubakar agar terus menyala
“I just need time for thinking”
kachan... :)
BalasHapusWhy?