Ini adalah cerpen yang kubuat dan mendapat juara pertama lomba cepen yang diadakan Nadwah Unsri, se Unsri,, Ku harap kalian mau baca.. yaya
* * *
Suasana saat itu remang-remang, sunyi dan senyap. Namun masih ada kehidupan di sini, di atas sungai Musi. Mereka berdua, sepasang suami istri belumlah tidur.
“Bang, abang kenapa di luar sini, ini sudah malam sekali. Dingin bang, nanti sakit!”
Lastri mendekati suaminya yang duduk di teras rumah mereka yang hanya berupa papan, tidak begitu tinggi dari permukaan air.
“Sakit, itu hanya soal waktu Dek,, hati Abang sudah lama dingin dan sakit.”
“Abang, kenapa berbicara seperti itu?”
“Dek, kadang abang berfikir bagaimana rasanya jadi pejabat dan orang-orang kaya itu, pasti hidupnya enak sekali di rumah, tenang, makan cukup, tidak usah gusar memikirkan mau makan apa besok.”
“Abang, Abang kok berfikir seperti itu. Abang sendiri yang mengajarkan kepada Lastri untuk terus bersyukur di dalam kehidupan ini. Sebenarnya apa yang menggelisahkan abang?”
“Abang memikirkan Amma, kasian dia, Abang takut nanti, tidak sanggup membiayai sekolahnya lagi, Abang tidak mau dia bernasib seperti kita.”
“Abang tenang saja, masih ada Tuhan di atas sana, yang mendengar doa-doa kita, kalau kita berusaha, akan ada jalan bang.”
Lastri mengamit tangan dan merebahkan kepalanya ke pundak suaminya. Bersama mereka menatap bulan merah besar, menikmati dingin yang sudah menusuk-nusuk sampai ke tulang.
****
Tarman, pagi-pagi sudah siap untuk berangkat bekerja, setelah sarapan sederhana nan enak dari istrinya. Bajunya, kaos oblong kumal yang mungkin jarang diganti bertambah lengkap dengan topi dan handuk yang akan sering diikatkan ke leher bila nanti matahari sudah terik di atas.
Tidak beberapa menit, Tarman sudah di tempat kerjanya yang mau tidak mau harus disyukuri nyaman. Tempat duduk yang jauh dari empuk dan sebuah setir besar yang berat yang sudah menjadi teman setianya dari pagi sampai sore. Tidak dilupakan juga, Tarman punya anak buah setia, kenek bus. Yang sudah sebulan ini, sering diganti-gantinya karena merasa tidak cocok.
“Laju Bang!” Herman sang kenek berteriak dengan suara serak yang khas.
Kalau sudah mendengar bunyi yang seperti itu segera saja Tarman memajukan gigi bus tanpa tenaga, mengijak pedal gas, dan terdengarlah auman bunyi bus yang dari suaranya itu, dapat diperkirakan usia bus yang sudah renta. Menjelajah seluruh jalan Palembang adalah satu-satunya keahlian Tarman yang langka dimiliki oleh orang lain. Sehari bisa puluhan kali melewati jalan yang sama, sehingga dimana letak lobang di jalan pun Tarman sudah hapal di luar kepala.
Keahlian dan bakat lain adalah soal kejelian mata. Kalau sopir tidak jeli, mungkin banyak penumpang yang terlewatkan yang biasanya berjalan di lorong-lorong kecil. Dan satu lagi hobi Tarman, (hehe, ini rahasia loh) yaitu memperhatikan penumpang di belakang dari kaca depan. Kadang penumpang tidak sadar kalau sedang diperhatikan. Kebanyakan muka-muka penumpang, adalah muka yang sudah bertekuk-tekuk kesal, setengah tidur, tidur pulas, datar tanpa ekspresi, dan jarang yang ada tersenyum bahagia. Tapi, hal itu wajar saja bagi Tarman, 10 tahun jadi sopir bus, Tarman kadang tetap saja merasa risih dan mengeluh dengan panas polusi yang menyengat, sumber utama rasa kesal dan gerah di angkutan umum.
“ Stop Bang!” Herman memekik dengan keras, tanda bahwa akan ada penumpang yang harus diturunkan.
Dengan naluri, langsung saja, kaki dan tangan Tarman bisa sinergis untuk menghentikan bus. Tarman harus memperhatikan dari kaca spion kiri, apakah penumpang itu sudah benar-benar turun, baru Tarman tancap gas lagi. Kegiatan ini adalah kegiatan rutin yang dijalaninya setiap hari.
Walaupun mencari uang harus dengan susah payah baginya, bermandikan keringat, gerah dan panas, namun uang itu halal. Dan lagi, Tarman selalu bersyukur masih diberikan seorang istri yang setia dan baik hati, keluarga yang harmonis dan anak semata wayangnya yang lucu. Harmonis walau serba kekurangan. Tidak lupa juga, hal yang membuat perasaannya damai setiap hari. Rumah mereka di atas sungai Musi, kampung halamannya, tempat tinggalnya sedari kecil. Orang kota mungkin merasa enggan melihat orang kampung tinggal di atas sungai, rumah yang bisa kemasukan air, kalau air pasang. Namun bagi mereka, hal itu sudah menjadi habitat dan Tarman merasa damai tinggal di sana. Perasaan itulah yang tidak bisa digantikan.
***
Langit kota Palembang, biru cerah. Awan putih melingkar-lingkar menambah pesona yang tidak terceritakan. Dengan segelas es teh manis, Tarman menikmati suasana istirahat siangnya. Namun dari kejauhan, dia melihat Herman, tergopoh gopoh menghampirinya,
“Bang, bang, ada berita baru Bang,” Herman kenek busnya terengah-engah.
“Berita apa lagi? Bikin kaget aja”
“Besok bakal ada demo Bang, kita mesti ikut Bang,”
“Demo?”
“Iya Bang, besok, seluruh sopir bus bakal demo di depan kantor gubernur,” Herman, berusaha meyakinkan bosnya.
“Demo apa? Mereka mau cari gara-gara ya?
“Bukan Bang, haduh, Abang selama ini kemana saja sih? Abang tau bus trans Musi kan ?”
“ Oh bus yang baru itu ya, emangnya kenapa?”
“Abang ini kok berita yang segini penting malah ndak tau. Bus baru itu sudah tiba lagi kemaren beberapa unit. Dan rencana pemerintah itu benar-benar akan terjadi, 6 bulan lagi seluruh bus yang ada di Palembang harus distop izin jalannya, jadi seluruh jalur bus yang ada diganti sama bus Trans Musi itu.”
Tarman mengerinyitkan dahinya, tidak begitu mengerti.
“Walah Bang, kok lama koneknya, kalau tidak dikasih izin jalan Bang, istri dan anak abang mau dikasih makan apa?”
Tarman sunyi tanpa suara berusaha mencerna perkataan Herman tadi. Tarman gamang, bingung harus melakukan apa. Berita itu membuatnya syok sesaat, tiba tiba saja dada Tarman bergemuruh dan panas. Langit biru cerah diatas dan matahari terik bersinar, begitu pun di dalam hatinya, satu keputusan singkat jujur dari suara hatinya, ia tentu tidak bisa terima dan ingin protes pada pemerintah.
***
Walau hanya tamat SD, sebenarnya Tarman mengerti maksud pemerintah untuk mengadakan bus-bus baru dan menyingkirkan bus-bus yang lama. Tarman sudah merasakan 20 tahun terakhir ini, perubahan yang besar di kota Palembang. Dalam 5 tahun saja, tanah-tanah yang kosong sudah berdiri gedung-gedung menjulang. Jalanan yang padat dan macet. Belum lagi udara yang benar-benar panas karena polusi udara. Tentulah pemerintah berupaya untuk memperbaiki itu semua.
Tarman juga merasakan, kalau bus yang dikendarainya untuk mencari nafkah itu sudah tidak layak pakai dan keselamatan penumpang adalah jaminannya. Namun, apa peduli di tentang semua itu? Dan lagi apakah itu semua penting dibanding kehidupan keluarga kecilnya. Apa yang harus dia lakukan selain jadi sopir bus. Dicari-cari pun, Tarman tahu jawabannya kalau dia tidak mempunyai keahlian apapun. Tarman memanggil istrinya yang sedang sibuk lalu lalang membereskan dapur tanpa memperhatikannya.
“Dek, duduk sebentar, Abang mau bicara sesuatu,”
“Abang idak usah ngomong, Lastri sudah tau apa yang terjadi, ibu-ibu ramai bicara tadi pagi di pasar. Jadi, semua itu bener ya, Bang?”
“ Iya Dek, tinggal menunggu hari ketika bus-bus yang baru datang lagi, mungkin Abang akan kehilangan pekerjaan.”
“ Kalau begitu, kenapa Abang idak mendaftar saja jadi sopir bus trans Musinya?”
“Hhh,” Tarman menghela nafas panjang. “Tamatan SMA Dek, jauh, kalau mendaftar belum tentu keterima, Abang idak sanggup bayar petugasnya untuk masuk.”
“ Yah, dicoba dulu toh Bang,”
“ Abang, mau ikut demo besok, siapa tahu, ada perubahan nasib untuk para sopir,”
“Lastri sebenernya, idak setujuk Abang ikut-ikut demo cak itu, tapi yah, laju bae Bang, kalau itu satu-satunya cara,” Lastri beranjak dari tempatnya duduk. Tarman sebenarnya tau, kalau istrinya kecewa walau Lastri tidak menampakkannya.
“Hhhh,” lagi-lagi Tarman menarik nafas panjang, mendesah.
***
“Wahai Bapak-Bapak yang ada di dalam gedung. Dengar permintaan kami ini. Jika seandainya, bus-bus kami akan digusur nantinya, kami menuntut kejelasan nasib kami para sopir Bus! Wahai saudara- saudaraku, hidup Sopir bus!”
“Hidup, Sopir Bus!” suara teman-teman seperjuangannya, sesama sopir bus, menggelegar memenuhi lapangan di depan kantor gubernur. Dan untungnya di siang ini, matahari cukup bersahabat menawarkan keteduhan walau hanya sesaat. Walau raga Tarman berada di lapangan ini, namun jiwanya mengembara jauh. Dia teringat saat masih kecil. Bermain-main asik di tepi sungai yang jernih. Hidup tenteram bersama amak dan ubaknya dulu. Tetangga-tetangganya penuh, namun sekarang perumahan di atas sungai itu sudah tinggal 25% dan yang lainnya sudah digusur dan dipindahkan yang tidak tau lagi, kemana mereka pergi dan apakah pemerintah benar-benar memberi ganti yang layak. Dalam hati, Tarman menggerutu,
Bus digusur, rumah digusur, apa-apa digusur. Menunggu hari, kalau rumah mungil permai mereka digusur juga, Tarman sudah pasrah, dan tidak tau harus berbuat apa lagi. Sekarang yang terbayang hanya wajah istri dan anaknya.
Tarman tersenyum kecut, hatinya perih. Suasana makin gelap dan mendung, rintik- rintik hujan turun. Paling tidak ini yang disyukuri Tarman sekarang, hujan ini dapat menutupi hujan diwajahnya yang juga mengalir perlahan dan mungkin nantinya menjadi deras.
***
Bulan masih purnama di atas jembatan Ampera. Tentu saja, pemandangan ini dapat dilihat dari jendela rumah Tarman. Namun, penat seharian setelah berdemo, menyurutkan, niat Tarman untuk menikmati keindahan pemandangan tersebut. Ternyata, ada pemandangan lain, yang memikat hati Tarman.
Tarman melihat anak semata wayangnya yang tekun belajar di bawah cahaya lampu minyak. Terselip rasa bangga dan haru di hati, cukup untuk menghibur segala gelisah di hati. Tarman mendekati anaknya,
“Amma, Ubak seneng liet Amma belajar,” tegur Tarman
Amma, anak lelaki Tarman, yang berusia sekitar 6 tahun, menoleh ke arah ubaknya dan tersenyum menyeringai, menampilkan barisan gigi ompongnya. Lucu sekali.
“Bak, kata guru Amma, supaya cita-cita kita tercapai, kita harus belajar rajin-rajin,” celoteh Amma
“Cita-cita, Amma punya cita-cita ya, boleh Ubak tau, Amma mau jadi apa,”
“Hmm, rahasia,
“Jadi dokter ya,
“Bukan Bak, temen Amma, banyak yang pengen jadi dokter, kalau Amma beda, cita-cita Amma mau jadi sopir bus, keren Bak!”
Tarman, terdiam, kepalanya pening dan berdenyut, Tarman mengeja berulang kata-kata anaknya di dalam hati,
S o p i r B u s, kenapa harus sopir bus Amma, Tarman membatin.
“Kata guru Amma, kita harus lebih dari orang tua kita. Di seluruh dunia ini, idola Amma adalah Ubak, Amma ngerasa keren kalo liet Ubak nyetir mobil besar, keliling kota, membantu orang-orang. Tapi, Amma idak pengen jadi sopir bus kaya Uba, Amma mau jadi sopir Bus Trans Musi. Wuihh keren Bak, kata temen temen Amma sejuk ada AC nya, Amma jadi pengen naik, terus ada,,”
Tarman sudah tidak lagi mendengar celoteh anaknya. Perih dan nanar pandangan matanya terhunus ke dapan. Tarman sama sekali tidak habis pikir tentang ide anaknya itu, mengapa harus menjadi sopir bus, apa hebatnya jadi sopir bus, namun, hal yang lebih penting lainnya berkecamuk di fikiran Tarman,
Apakah aku akan sanggup menyekolahkanmu, Nak? Sopir bus, walau hanya menjadi sopir bus?
Tiba- tiba, hujan rintik-rintik turun di luar, angin bertiup kencang yang suaranya berubah menakutkan. Amma, menjadi ketakutan.
“Ubak, Amma takut, sepertinya mau hujan lebat,” Amma beringsut, ke pangkuan Tarman. Tarman memeluk anaknya, mengusap-ngusap punggung Amma,
“Tidurlah, hari –hari esok akan berat Nak, untuk jadi sopir bus, kita tidak boleh cengeng, tidurlah!”
***
Palembang, 26 Maret 2010
Untuk para Sopir Bus
Istilah
Kenek : Kondektur
Konek : Mengerti
Ubak : Bapak
Umak : Ibu
Idak : Tidak
Bagus deh infonya. Sambil baca boleh ya Aku ikut promosi.
BalasHapusYa jangan dihapus deh harapannya. Terima kasih.
Yuk yang suka taruhan bola, gabung di 7meter.
Layanan taruhan bola yang profesional.
Hanya ada di Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter