> Guru. Satu kata yang tidak akan asing lagi di telinga kita. Tapi, pernah mencoba berfikir lebih dalam tentang seorang guru. Kata orang, guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, guru itu inilah dan itulah. Banyak opini, banyak pandangan, tapi satu yang jelas setiap hari dan hampir sebagian waktumu kau bertemu mereka, menghabiskan waktu bersama mereka. Akan tetapi sedikit sekali ruang pemikiran kita, untuk mereka. Sekedar menghargai mereka. Yang ada cemoohan, candaan, dan keluhan. Syukur-syukur ada sedikit pujian.
> Melihat sosok Andrea Hirata –yang kata pak Jawahir, ‘saudara kita- juga karya-karyanya tak lepas dari seorang guru. Yankni bu Muslimah, seorang guru ikhlas yang menginspirasi karya fenomenal Andrea Hirata, “Laskar Pelangi”. Sosok guru, yang mampu memotivasi dan melambungkan mimpi anak-anak kalangan bawah hingga mampu menggantungkan asa setinggi bintang di langit atau kalau perlu setinggi bintang yang terlihat lagi di angkasa. Ada pula barrack obama yang dalam pidato kemenangan pemilunya mengungkapkan kalau gurulah yang berperan besar pada hidupnya.
>Dari SD sampai SMP pasti ada saja guru yang sosoknya kukagumi. Namun ketika beranjak ke SMA, aku sulit menemukan sosok guru yang aku idolai pada mulanya. Apalagi guru-guru eksak, menyebalkan dan semaunya. Namun sekarang, ketika aku sudah menuju kedewasaan –tak ingin disebut remaja-, aku lambat-laun mulai menyukai mereka. Yah, setiap mereka memimpin di depan kelas, mereka mengajar dengan baik. Dan disela-sela waktu itulah, mereka mulai membagi pengalamannya dengan kami. Memberi pandangan kepada kami, menggambarkan nilai-nilai, filosopi dan keidealismean yang mereka pegang. Mereka semua berbeda dalam hal tersebut. Namun cukup membuatku sadar mereka orang-orang hebat walau bukan presiden, professor, jutawan. Namun hal-hal yang mereka ceritakan, menggambarkan mereka telah ditempa pengalaman hidup, kegagalan dan nilai-nilai dari sebuah kebahagiaan. Mereka hanyalah orang biasa saja. Tak ada yang istimewa, tak sempurna, namun aku menganggap mereka orang hebat yang terdampar di desa tempat aku sekolah sekarang. Perlahan namun pasti aku menyukai semua pelajaran, yang berarti aku menyukai seluruh guruku. Dari biologi yang penuh ketegasan diselingi canda, matematika yang penuh kelemahlembutan dan kebijaksanaan, fisika yang menyebalkan naman penuh karakter, bahasa inggris yang penuh misteri namun mampu memotivasi. Semuanya. Mereka berbeda dalam segala hal namun satu yang pasti mereka semua mendorong kami untuk terus berprestasi dan berkreasi.
> Dan sering mampir di benakku, ingin jadi guru yang total mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa. Menanamkan nilai-nilai kehidupan, moral, etika dan suatu idealisme yag dipegang agar tak terjerat hitamnya kehidupan. Namun, bisakah hidupku terjamin. Bisakah aku kaya. Salahkah aku teman, jika aku menilainya dengan materi. Apakah aku telah kehilangan keidealismean diriku. Makin hari aku makin luluh saja pada peliknya kehidupan. Contoh kecil ‘mencontek’. Mau hasil bagus menempuh segala cara. Mana nilai-nilai luhur yang ditanamkan orang tua, guru SD kita? Hanya hal kecil, kita semua luruh. Entahalah bagaimana kehidupan yang akan datang. Jika anak dan keluarga kita merengek. Luluhkah kita menempuh segala cara. Hah, aku seperti menghakimi saja. Namun itu fakta. Tapi, semoga teman, di kehidupan yang akan datang, kita jadi pemimpin bangsa ini menjadi pribadi-pribadi tangguh penuh integritas dan pengabdian. Dan juga salah satunya, aku yang ingin jadi guru namun juga kaya raya. Mungkinkah?
oke2 aku udah baca blog kamu dan saatnya kamu masuk ke budakbangka.blogspot.com
BalasHapus